Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Duh, Sawah Seluas 300 Hektar di Kabupaten Jembrana Bali Terdampak Banjir

Muhammad Basir • Selasa, 16 September 2025 | 00:05 WIB
Lahan sawah terdampak banjir di Desa Banyubiru tertutup material batu, pecahan pasir, semen serta sampah.
Lahan sawah terdampak banjir di Desa Banyubiru tertutup material batu, pecahan pasir, semen serta sampah.

Radarbadung.jawapos.com- Saat terjadi banjir pada Rabu (10/9) pekan lalu, sawah seluas 301,3 hektar di kabupaten Jembrana, Bali terdampak banjir.

Namun belum bisa diketahui secara pasti dampak banjir ini, bisa mengakibatkan puso atau gagal panen atau tidak karena usia taman yang terdampak dan kerusakan beragam. Sehingga perlu dilakukan pendataan secara menyeluruh.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, sempat terdata seluas 2899,5 hektar.

Lokasi di empat kecamatan, terluas di wilayah Kecamatan Jembrana seluas 114 hektar, kemudian Negara 95,5 hektar, Melaya 70 hektar dan Mendoyo 10 hektar.

”Wilayah Pekutatan nihil. Tidak ada yang terdampak,” ujar Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma.

Luas lahan yang terdampak banjir dan rusak ini berpotensi terus bertambah, karena petugas lapangan baik BPBD Jembrana dan Bidang Pertanian masih dalam proses kami pendataan.

Terlihat berdasarkan laporan terakhir, Sabtu sore luas lahan terbaru yang terdampak seluas 301,3 hektar. ”Estimasi nilai kerugian masih didata,” ujarnya.

Selain melakukan pendataan mendetail lagi, terhadap lahan pertanian yang terdampak, juga dilakukan pendataan sesuai tingkat kerusakan sawah akibat banjir.

Secara umum, kerusakan pada sawah yang terdampak karena terendam air banjir dengan durasi waktu yang berbeda di masing-masing daerah.

”Usia tanam yang terdampak beragam, berbagai usia tanam. Ada yang baru menanam, ada juga yang hampir panen,” ungkapnya.

Karena itu, untuk menentukan apakah sawah tersebut gagal panen atau tidak masih menunggu pendataan ulang dan evaluasi.

Apabila sawah yang hampir panen terendam air banjir hingga lebih 3 hari, maka berpotensi gagal panen.

Baca Juga: Pelingsir Puri di Bali Desak Presiden Prabowo Segera Bangun Bandara di Bali Utara

”Untuk memastikan apakah gagal panen atau tidak, akan kami cek lagi setelah lebih tiga hari banjir,” terangnya.

Selain sawah yang terendam air banjir, tidak sedikit sawah yang terendam material batu, tanah, sampah dan pohon yang tumbang.

Seperti sejumlah lahan pertanian di pinggir Jalan Denpasar- Gilimanuk wilayah Kecamatan Negara, tepatnya di wilayah Desa Baluk hingga Desa Banyubiru. Sawah terendam material batu dari pondasi penahan tanah.

Lahan sawah yang terendam air batu, apabila padi baru menanam bisa diganti atau ditanam yang baru oleh pemiliknya setelah material yang menutupi dibersihkan. Akan tetapi kalau dibiarkan sudah dipastikan rusak dan gagal panen.

Pihaknya juga akan melakukan pemantauan secara berkelanjutan, mengingat air pada saat banjir terjadi tidak hanya menutup sawah.

Tetapi sejumlah saluran irigasi, baik primer dan sekunder yang rusak sehingga berpotensi mengakibatkan kekeringan.

Selain itu, sejumlah pompa air di sumur bor juga rusak karena terendam banjir. ”Kami akan terus memantau, baik yang terdampak banjir atau yang tidak terdampak langsung,” tandasnya.***

 

 

 

Editor : Donny Tabelak
#sawah #BPBD Jembrana #dinas pertanian #banjir