Radarbadung.jawapos.com- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng meminta agar Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Pemaron tidak tutup mata, dengan kenyamanan masyarakat di sekitar mereka.
Sebab aktivitas pembangkit listrik itu belakangan ini menimbulkan keluhan masyarakat.
Masyarakat sekitar areal PLTGU Pemaron, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng mengeluhkan adanya kebisingan, getaran, dan polusi udara yang bersumber dari aktivitas pembangkit listrik tersebut.
Menindaklanjuti itu, Pemkab Buleleng dan PT PLN tengah berkoordinasi, untuk mencari solusi yang seimbang antara kebutuhan energi dan kenyamanan masyarakat.
”Sudah hampir setahun keluhan ini. Kami tidak diam dengan dampak sosial dan lingkungan yang mungkin timbul dari pembangkit listrik ini,” ujar Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna pada Minggu kemarin (12/10).
Menurutnya, pembangunan harus memberikan manfaat, namun tidak boleh mengabaikan kualitas hidup masyarakat di sekitar.
Maka Pemkab Buleleng mendorong agar pembangkit listrik itu melakukan langkah mitigasi secara berkelanjutan, termasuk pemantauan kualitas udara, tingkat kebisingan, dan intensitas getaran.
Supriatna juga berencana melibatkan instansi teknis seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), untuk memastikan hasil pengukuran dampak lingkungan berjalan transparan dan akuntabel.
Baca Juga: Desa Songan Kembali Berdarah, Dua Nyawa Melayang, Dipicu Parkiran Mobil Jeep
”Kami paham kalau kebutuhan daya listrik di Bali cukup besar, tapi keluhan masyarakat juga harus diakomodir. Harapannya, masyarakat tetap nyaman tinggal di sekitar kawasan pembangkit ini,” lanjutnya.
Sementara itu, di PLTGU Pemaron disebut sudah melakukan berbagai upaya teknis untuk menekan tingkat kebisingan.
Salah satunya dengan pemasangan sound barrier atau dinding peredam suara, setinggi sembilan meter yang mengelilingi kompleks pembangkit listrik.
Selain itu, dipasang juga tiga unit sound attenuator yang sedang diuji coba. Pemasangannya ditargetkan rampung pada akhir Oktober ini.
Upaya tersebut juga dilakukan untuk meredam kebisingan yang muncul. Sehingga antara keberlangsungan pasokan listrik di Bali utara dan keluhan masyarakat, dapat teratasi dengan baik.
”Kerjasama juga dilakukan dengan pihak eksternal, untuk melakukan evaluasi dan kajian teknis, guna mengurangi kebisingan dan polusi udara,” kata Manager PT PLN (Persero) UP3 Bali Utara, Elashinta.***