Radarbadung.jawapos.com- Kematian mahasiswa Sosiologi semester VII Universitas Udayana Timothy Anugerah Saputra masih menjadi pembicaraan sesama mahasiswa. Diduga, ada sejumlah mahasiswa yang mengolok-olok korban.
Ayah korban yang tidak terima, akhirnya melaporkan peristiwa tersebut ke Polresta Denpasar, Sabtu lalu (18/10).
Menanggapi pelaporan tersebut, wartawan meminta tanggapan Kepala Unit Komunikasi Publik, Dewi Pascarani namun belum merespons pertanyaan.
Di samping itu, adanya peserta didik (co ass) RS Ngoerah yang diduga ikut membully almarhum Timothy Anugerah Saputra setelah meninggal, diduga bunuh diri dari lantai 4 Gedung Fisip Unud 15 Oktober lalu di media social.
Plt Direktur Utama RS Ngoerah dr. I Wayan Sudana mengaku, aksi bully berdampak terhadap citra RS Prof Ngoerah dan Universitas Udayana.
Dikatakan, salah satu peserta co ass yang membully almarhum dikembalikan ke Universitas Udayana untuk dilakukan pendalaman dan investigasi.
"Jika nantinya terbukti yang bersangkutan melakukan tindakan pelanggaran etika atau perundungan, akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku," terangnya.
Sudana tegaskan, mereka yang membully adalah peserta didik yang sedang belajar di RS Ngorah bukan karyawan, maka pihak RS tidak dapat mewakili rumah sakit.
"RS Ngoerah berkomitmen menciptakan lingkungan belajar dan kerja yang aman, beretika, dan saling menghargai. RS Ngoerah mengajak semua pihak untuk menggunakan media sosial secara bijak dan menjaga nama baik institusi serta profesi kesehatan," jelasnya.
Sementara itu, ramai menjadi perbincangan masyarakat, sikap dan respons berapa mahasiswa terhadap kematian mendiang yang dijadikan bahan olok-olokan di sebuah whatsapp group media sosial.
Dugaan ucapan nir-empati terhadap almarhum mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, itu membuat Rektor Universitas Udayana sampaikan klarifikasi resmi.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik bersama Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Himpunan Mahasiswa Program Studi, dan mahasiswa yang terlibat dalam percakapan di media sosial, dapat dipastikan isi percakapan tersebut terjadi setelah almarhum meninggal dunia, bukan sebelum peristiwa yang menimpa almarhum.
Dengan demikian, ucapan nir-empati yang beredar di media sosial tidak berkaitan atau menjadi penyebab almarhum menjatuhkan diri dari lantai atas gedung FISIP.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik telah melaksanakan rapat pembahasan bersama seluruh pihak terkait, dan hasil rapat tersebut akan diteruskan kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Universitas Udayana untuk dilakukan penyelidikan dan penanganan lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Universitas Udayana, kata dia, mengecam keras segala bentuk ucapan, komentar, atau tindakan nir-empati, perundungan, kekerasan verbal, maupun tindakan tidak empatik, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Tindakan seperti ini bertentangan dengan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi dan etika akademik universitas.
Universitas, lanjutnya, akan mengambil langkah tegas kepada mahasiswa yang terlibat, sekaligus memperkuat sosialisasi tentang etika komunikasi publik dan penggunaan media sosial yang bertanggung jawab.
Setiap bentuk kekerasan, perundungan, atau tindakan yang mencederai martabat akademika akan diproses sesuai dengan peraturan universitas yang berlaku.
Universitas tidak akan segan memberikan sanksi tegas kepada pelaku kekerasan di lingkungan kampus, sesuai hasil pemeriksaan Satgas PPK dan otoritas berwenang.
Rektor Universitas Udayana, Prof. I Ketut Sudarsana, menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa yang mendalam atas peristiwa yang menimpa almarhum.
“Kami sangat berduka atas kepergian salah satu mahasiswa terbaik kami. Universitas Udayana turut merasakan kesedihan yang mendalam bersama keluarga dan seluruh civitas akademika," kata Sudana.
Sudana menegaskan kampus harus menjadi ruang aman, berempati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
"Universitas akan menindak tegas setiap pelanggaran yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan kehormatan akademik,” ujar Rektor.
Rektor Udayana mengajak seluruh civitas akademika untuk menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi dan pembelajaran bersama tentang pentingnya empati, rasa hormat, dan kepedulian antar sesama mahasiswa.
Universitas Udayana juga terus memberikan pendampingan psikologis bagi rekan-rekan mahasiswa dan civitas akademika yang terdampak, serta berkomitmen memperkuat program kesehatan mental dan literasi digital di lingkungan kampus.
"Kami menghormati privasi keluarga almarhum dan berharap seluruh pihak dapat menghentikan penyebaran konten atau narasi spekulatif yang dapat memperburuk suasana duka," jelasnya.***
Editor : Donny Tabelak