Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Dari Tewasnya Mahasiswa Unud, Kapolsek Denpasar Barat: Keluarga Nyatakan Ikhlas, Tolak Periksa HP Korban

Andre Sulla • Senin, 20 Oktober 2025 | 23:26 WIB
Kapolsek Denpasar Barat, Kompol Laksmi Trisnadewi W., S.H., S.I.K., dan Kasi Humas Polresta Denpasar Kompol I Ketut Sukadi memberikan keterangan terkait tewasnya mahasiswa Unud.
Kapolsek Denpasar Barat, Kompol Laksmi Trisnadewi W., S.H., S.I.K., dan Kasi Humas Polresta Denpasar Kompol I Ketut Sukadi memberikan keterangan terkait tewasnya mahasiswa Unud.
 
Radarbadung.jawapos.com– Keluarga dari almarhum Timothy Anugerah Saputra alias TAS menyatakan telah ikhlas dan sudah menerima kejadian ini sebagai musibah. Bahkan tidak ingin memperpanjang masalah ke ranah hukum.
 
Walaupun demikian, misteri dibalik tewasnya mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana (Unud), ini masih menjadi perhatian publik. 
 
Karena itu, pihak kepolisian perlahan-lahan masih dalami motif Mahasiswa Program Studi Sosiologi itu meninggal dunia usai diduga melompat dari lantai empat gedung FISIP Unud, Jalan PB Sudirman, Denpasar, Rabu 15 Oktober 2025 lalu.
 
Kepastian ini disampaikan Kapolsek Denpasar Barat Kompol Laksmi Trisnadewi W., S.H., S.I.K., dan Kasi Humas Polresta Denpasar Kompol I Ketut Sukadi, Senin (20/10).
 
Pasca tewasnya Timothy Anugerah Saputra, pihak kepolisian langsung melakukan penyelidikan.
 
Namun, sempat terkendala lantaran pihak keluarga tidak mengizinkan polisi membuka ponsel milik korban.
 
Baca Juga: Dari Kematian Tragis Mahasiswa Universitas Udayana, Sudah Meninggal Pun Masih Diolok-olok Sesama Mahasiswa
 
Padahal, dari perangkat tersebut polisi berharap bisa menemukan petunjuk, termasuk komunikasi terakhir korban.
 
“Keluarga sudah menerima kejadian ini sebagai musibah dan tidak ingin memperpanjang masalah ke ranah hukum,” ungkap Kapolsek.
 
Walaupun demikian, penyelidikan mendalam terus dilakukan oleh Polsek Denpasar Barat dibantu Polresta Denpasar.
 
Dapat dipastikan, yang bersangkutan terjun dari lantai empat bukan lantai dua. Walau begitu, polisi mengaku masih kesulitan mengungkap penyebab pasti korban jatuh dari lantai empat, hingga Senin (20/10).
 
Kendati tidak ada saksi yang melihat langsung jatuhnya korban, pun kamera CCTV di area teras lantai empat diketahui rusak sejak 2023.
 
Kapolsek Denpasar Barat Kompol Laksmi Trisnadewi W mengatakan, sejumlah saksi mulai dari dosen, teman seangkatan, sahabat, hingga orang tua korban mengaku korban datang ke kampus seorang diri.
 
Baca Juga: Heboh, Pelaku Balap Liar Nekat Tutup Jalan Bypass Ida Bagus Mantra di Klungkung
 
Itu pun diketahui berdasarkan rekaman CCTV di lobi kampus. "Dia datang sendiri, naik lift menuju lantai empat. Di sana terekam korban keluar dari lift dan berjalan ke arah teras,” jelas Kapolsek.
 
Saat itu, lanjutnya, ada tiga saksi yang sudah berada di lantai empat. Namun mereka tidak mengenal TAS. Ia terlihat melepas tas dan duduk di teras, kemudian membuka sepatunya.
 
“Sekitar 10 hingga 15 menit kemudian, korban sudah tidak terlihat. Tas dan sepatunya masih tertinggal di sana,” ujar Kapolsek.
 
Terkait dugaan adanya perundungan yang memicu aksi nekat korban, Laksmi menegaskan hal itu masih dalam proses penyelidikan. 
 
“Dari hasil keterangan para saksi, baik dosen maupun teman satu kelas dan sahabatnya, tidak ditemukan indikasi korban mengalami perundungan,” tegasnya.
 
Penyelidikan sempat terkendala lantaran pihak keluarga tidak mengizinkan polisi membuka ponsel milik korban.
 
"Padahal, dari perangkat tersebut polisi berharap bisa menemukan petunjuk, termasuk komunikasi terakhir korban" ungkapnya.
 
Baca Juga: Ojol dan Ojek Liar Meresahkan di Jalan Legian Kuta, Polisi Amankan 147 Jaket Ojol Palsu
 
“Keluarga sudah menerima kejadian ini sebagai musibah dan tidak ingin memperpanjang masalah ke ranah hukum,” tambahnya.
 
Senada disampaikan Kasi Humas Polresta Denpasar Kompol I Ketut Sukadi. Berdasarkan keterangan saksi mahasiswa berinisial NKGA, korban sempat terlihat gelisah. Ia datang dari arah lift dengan ransel di punggung, mengenakan baju putih sekitar pukul 08.30 WITA.
 
"Saksi melihat korban seperti orang panik dan menoleh ke kiri-kanan,” ujar Sukadi.
 
Beberapa menit kemudian, TAS diduga melompat dari teras lantai empat dan jatuh di depan lobi gedung.
 
Mahasiswa serta petugas keamanan segera mengevakuasi korban ke RSUP Prof IGNG Ngoerah, Denpasar. TAS sempat mendapat perawatan medis, namun nyawanya tidak tertolong. 
 
"Ia mengalami patah pada lengan, paha, dan panggul akibat benturan keras, serta dinyatakan meninggal karena pendarahan internal sekitar pukul 13.03 WITA," bebernya.
 
Baca Juga: Lapor Pak! Penerbangan Internasional Bertambah, Turis India ke Bali Meningkat
 
Lebih lanjut dijelaskan, meski keluarga sempat menerima kejadian itu sebagai musibah, ayah korban, Lukas Diana Putra, kemudian mendatangi Polresta Denpasar dan membuat aduan masyarakat (dumas) pada Sabtu 18 Oktober. 
 
Ia menilai beberapa isu yang beredar di media sosial simpang siur. Baik itu, meminta kepastian dari lantai berapa, dan kenapa anaknya bisa jatuh. Apakah bunuh diri, kecelakaan, atau ada unsur lain seperti Bullying.
 
“Benar, bapaknya membuat dumas karena ingin klarifikasi berita yang beredar. Kami sudah berikan penjelasan, termasuk HP korban yang tidak mau dibuka,” tutupnya.
 
Di sisi lain, belum reda duka keluarga, publik justru dikejutkan dengan beredarnya tangkapan layar percakapan grup WhatsApp mahasiswa lintas fakultas FISIP, FKP, dan Kedokteran yang mengejek kematian TAS.
 
Sejumlah mahasiswa di grup itu justru menertawakan korban dan membandingkan fisiknya dengan konten kreator Kekeyi. 
 
Baca Juga: Fernandez Menang Perdana di MotoGP Australia, Bezzecchi Geser Bagnaia di Peringkat 3
 
Unggahan tersebut menuai kecaman dari mahasiswa Unud lainnya dan warganet. Banyak yang menilai tindakan itu sebagai bentuk rendahnya empati dan moral akademisi.
 
Beberapa orang justru memberikan komentar bernada menghina, diketahui aktif di organisasi kampus.
 
Pihak Fakultas FISIP Unud tak tinggal diam. Wakil Dekan III FISIP, I Made Anom Wiranata, menegaskan pihaknya telah menjatuhkan sanksi akademik kepada mahasiswa yang terbukti ikut melakukan perundungan.
 
“Sanksinya berupa pengurangan nilai soft skill selama satu semester. Kami juga minta mereka membuat surat pernyataan dan video permintaan maaf,” ujar Anom dalam siaran langsung Instagram @dpmfisipunud, Kamis (16/10).
 
Menurutnya, keputusan itu diambil untuk memberikan efek edukatif, bukan hukuman. “Kami guru, bukan hakim. Kami ingin mendidik agar mereka sadar kesalahannya,” tegasnya.***
Camat Ngasem Iwan Sopian mengantar api abadi dari Kahyangan Api dalam perayaan Hari Jadi Bojonegoro ke-348 Minggu siang (19/10).
Camat Ngasem Iwan Sopian mengantar api abadi dari Kahyangan Api dalam perayaan Hari Jadi Bojonegoro ke-348 Minggu siang (19/10).
Ilustrasi Guru-guru Madrasah Kemenag
Ilustrasi Guru-guru Madrasah Kemenag
Editor : Donny Tabelak
#polresta denpasar #perundungan #FISIP #Bullyng #mahasiswa unud meninggal #polsek denpasar barat #universitas udayana