Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Cerita Warga dari Labuhan Amuk Basmi Ilegal Fishing, Kini Mulai Tuai Hasil Positif

Marsellus Nabunome Pampur • Kamis, 23 Oktober 2025 | 00:52 WIB
 
Mantan Ketua Kelompok Tirta Segara, I Ketut Mangku Latra (kanan) bersama ketua Kelompok Tirta SegaraWayan Totong (tengah) dan anggota
Mantan Ketua Kelompok Tirta Segara, I Ketut Mangku Latra (kanan) bersama ketua Kelompok Tirta SegaraWayan Totong (tengah) dan anggota
 
Radarbadung.jawapos.com- Bertahun-tahun lalu, suara letusan bom ikan cukup akrab di telinga masyarakat pantai Labuhan Amuk, Banjar Labuhan, desa Antiga, kecamatan Manggis, Karangasem.
 
Para nelayan yang datang dari luar desa setempat kerap melakukan penangkapan ikan dengan cara yang ilegal di kawasan laut pantai tersebut.
 
Tak hanya bom ikan, terkadang para pelaku juga menggunakan potasium untuk meracuni ikan.
 
Dampaknya, tak hanya ikan-ikan dan hewan laut lain yang mati, koral dan terumbu karang juga ikut binasa.
 
Populasi ikan di pantai kawasan pantai itu juga akhirnya mulai berkurang. Hingga akhirnya pada tahun 2014 silam, masyarakat sekitar sepakat untuk membentuk kelompok pengawas yang diberi nama Kelompok Masyarakat Tirta Segara. 
 
”Sebelum membentuk kelompok ini, kami beberapa kali menangkap sendiri para pelakunya. Jumlahnya cukup banyak. Kami serahkan ke polisi, tapi akhirnya tak bisa ditindak karena minimnya barang bukti. Sehingga setelahnya kami sepakat membentuk kelompok ini," kata mantan Ketua Kelompok Tirta Segara, I Ketut Mangku Latra saat ditemui di Pantai Amuk, Selasa (21/10).
 
Baca Juga: Maki Pekerja Proyek dengan Sebutan Monyet, Anggota DPRD Dicopot dari Ketua Komisi II
 
Sejak membentuk wadah tersebut, kepompong Tirta Segara yang kini beranggotakan kurang lebih 50 orang memiliki beberapa tugas pokok selain melakukan pengawasan ilegal fishing.
 
Mereka juga sering melakukan revitalisasi terumbu karang yang sudah rusak akibat aktivitas kapal-kapal dan juga ombak besar.
 
Sejauh ini, puas wilayah yang telah dilakukan revitalisasi terkait terumbu karang sudah mencapai kurang lebih 4 km persegi.
 
Sementara kawasan laut yang mereka awasai dari aktivitas ilegal fishing mencakup kawasan laut dari empat desa sekitarnya.
 
Mereka rutin melakukan patroli menggunakan perahu di kawasan laut tersebut.
 
”Sekarang potensi kerusakan koral dan terumbu karanh lebih banyak disebabkan oleh alam di bulang Juni, Juli Agustus. Di saat itu ombak tinggi membuat karang hancur," sambungnya.
 
Baca Juga: Heboh, WNA Rusia Mr. Terima Kasih Ngaku Diculik hingga Diperas Saat di Bali
 
Pada kesempatan yang sama, Ketua terkini dari Tirta Segara yakni Wayan Totong menyebut, hingga saat ini sudah terdapat kurang lebih 15 jenis trumbu karang di area konservasi.
 
Jenis-jenis itu merupakan jenis asli yang ada di kawasan laut dan juga beberapa lainnya merupakan jenis dari luar, yang sengaja ditanam untuk menambah jumlah populasi terumbukarang.
 
”Saar kami rehab atau konservasi, dapat sumbangan dari pihak LSM juga. Ada yang dibudidayakan di Serangan Denpasar Selatan, ditanam ke sini, dapat juga dari pemerintah hasil sitaan petugas, yang ditanam di sini juga," bebernya.
 
Proses perawatan terumbu karang usai tanam menurutnya tak semudah menanam rumput laut.
 
Dari sekian banyak yang ditanam, hanya kurang lebih 30 persen yang memiliki peluang tumbuh atau hidup. Sisanya akan mati. Yang mati ini akan dicabut kembali dan dibawa ke bank khusus untuk dilakukan rehab kembali.
 
Baca Juga: Tepis Menkeu Purbaya Soal Rp 4,1 Triliun Ngendap, Dedi Mulyadi Klaim Dana Jabar di Bank Cuma Rp 2,4 T dan Bukan Deposito
 
Aksi sosial yang telah dilakukan selama belasan tahun itu kini berubah positif. Pupulasi ikan di kawasan itu kini melimpah.
 
Potensi ini pun akhirnya digunakan kembali oleh masyarakat untuk membuka wisata mancing di kawasan pantai tersebut.
 
Tak hanya mancing, pantai itu kini mulai ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik yang ingin melakukan snorkeling.
 
Meski kini wisatawan yang kian tertarik untuk mendatangi pantai Labuhan Amuk, sayangnya fasilitas penunjang di kawasan itu masih sangat minim. Fasilitas seperti hotel atau penginapan hingga restaurant pun masih kurang.
 
”Faktor penunjang masih belum mendukung, seperti penginapan, restaurant, konter diving belum ada. Masih agak susah," pungkas Totong.***
Data survei IPO, Menteri Purbaya Yudhi Sadewa menjadi nomor satu dengan kinerja terbaik.
Data survei IPO, Menteri Purbaya Yudhi Sadewa menjadi nomor satu dengan kinerja terbaik.
DISITA: Beberapa barang bukti yang disita Satreskrim Polrestabes Surabaya dari tersangka pesta gay. (M MAHRUS/RADAR SURABAYA)
DISITA: Beberapa barang bukti yang disita Satreskrim Polrestabes Surabaya dari tersangka pesta gay. (M MAHRUS/RADAR SURABAYA)
Editor : Donny Tabelak
#rumput laut #ilegal fishing #bom ikan #karangasem #labuhan amuk #nelayan