Radarbadung.jawapos.com- Berdasarkan data resmi, jumlah orang dengan HIV atau ODHIV di Kota Denpasar hingga September 2025 sebanyak 12.542.
Dari jumlah ini, jumlah ODHIV yang ditemukan dan masih hidup sebanyak 12.287 orang. Sedangkan ODHIV yang pernah masuk perawatan sebanyak 12.029.
Kemudian, ODHIV yang pernah mulai pengobatan terapi Antiretroviral atau ART sebanyak 8.745. Dari jumlah tersebut, ODHIV yang masih atau on ART sebanyak 6.637.
Dari 6.637 ODHIV yang masih menjalani terapi ART, ada sebanyak 4.299 ODHIV yang sudah dilakukan test viral load (VL) atau test untuk mengetahui jumlah virus di dalam darah.
Hasilnya, ada sebanyak 4.195 orang ODHIV yang dinyatakan VL tersuspensi. Orang dengan kondisi ini akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan memiliki kemungkinan melakukan penularan yang sangat minim.
Tri Idarti, selaku Sekretaris KPA kota Denpasar mengatakan, saat ini masih ada ribuan penyintas HIV yang belum atau memutuskan untuk tak melakukan terapi ART lagi.
Hal ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas untuk melakukan penanganan dalam upaya meminimalisir penularan HIV di Kota Denpasar.
Belum lagi dengan para ODHIV yang berpindah domisili tanpa pemberitahuan, dan memutuskan untuk tak melanjutkan terapi ART.
”Ada juga yang tidak mau lagi minum obat. Kendala lain, saat kami hubungi HP mereka kadang tidak aktif, alamat tidak ditemukan atau orangnya sudah pindah. Ini lah tantangannya," katanya dalam diskusi bersama media di Kota Denpasar, Senin (27/10).
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Spirit Paramacitta Bali, Putu Utami yang juga konsern dalam penanganan para penyintas HIV di Denpasar, menjelaskan obat antiretroviral harusnya dikonsumsi setiap hari secara teratur.
Namun, masih banyak penyintas HIV yang menganggap remeh hal ini karena merasa tubuhnya masih sehat.
”Mereka terkadang merasa dirinya masih segar, sehingga obatnya tak diminum. Setelah obat diambil, sampai rumah mahalh dibuang," bebernya.
Padahal, semua fasilitas layanan di Kota Denpasar sudah memudahkan para penyintas untuk mendapatkan obat.
Parahnya lagi, masih ada penyintas penyintas yang menyembunyikan statusnya dari pasangan.
Hal ini justru berbahaya karena akan memicu penularan tanpa melakukan upaya pencegahan. ”Parahnya lagi, pasangan tak tahu statusnya sebagai ODHIV," tandasnya.
Dalam upaya menekan angka penularan kini dibutuhkan kerjasama sejumlah pihak.
Mulai dukungan orang terdekat para penyintas, pemerintah dengan regulasinya, pihak yayasan, medis dan suport masyarakat tanpa adanya stigma negatif dari masyarakat.***
Editor : Donny Tabelak