Protes Petani Jatiluwih Berlanjut, Tanam Seng di Sawah, Desak Pemerintah Buka Dialog
Juliadi Radar Bali• Sabtu, 6 Desember 2025 | 16:05 WIB
Suasana aksi pemasangan seng lanjutan yang dilakukan oleh petani Jatiluwih di lahan pertanian miliknya di kawasan wisata DTW Jatiluwih, Penebel Tabanan.
Radarbadng.jawapos.com- Gelombang protes kembali dilakukan petani dan warga lokal di kawasan wisata DTW Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Penebel Tabanan, pada Jumat kemarin (5/12).
Aksi yang sama pula kembali dilakukan dengan jumlah yang lebih banyak. Setidak ada sekitar 30 petani di desa Jatiluwih kembali menanam seng ditengah lahan pertanian miliknya.
Kali ini pemasangan dalam jumlah banyak mencapai puluhan lembar. Seng-seng ditanam di lahan pertanian sebagai bentuk desakan agar pemerintah segera membuka ruang dialog, dan menemukan solusi atas penertiban penutupan tempat usaha Meraka yang dilakukan Pansus TRAP DPRD Bali bersama Satpol PP Bali dan Pemkab Tabanan saat sidak pada Selasa kemarin (2/12).
Selain itu mereka pula memasang plastik berwarna hitam dengan panjang sekitar 15-20 meter menutupi lahan pertanian mereka.
Salah satu warga I Wayan Subadra, pemilik Warung Wayan Jatiluwih yang masuk dalam pelanggaran 13 akomodasi pariwisata tersebut, mengatakan aksi kali ini merupakan kelanjutan dari pemasangan seng sehari sebelumnya.
Sebanyak 30 lembar seng kembali dipasang di sekitar Warung Sunari yang sebelumnya ditutup oleh Pansus TRAP, serta sepanjang jalur subak di sisi selatan.
Tak hanya seng, plastik berwarna hitam juga dipasang di areal masuk subak sepanjang 4 meter.
“Masih ada kiriman 65 seng tambahan dan besok akan dipasang lagi. Titik pemasangannya akan kami diskusikan,” ujar Subadra.
Menurutnya, pemasangan seng dilakukan mulai pukul 09.00–11.00 Wita. Selain seng, warga juga memasang plastik sepanjang sekitar 40 meter di jalur subak sebagai tanda penolakan dan solidaritas.
Beberapa material seng disebut merupakan bantuan dari rekan mereka yang memiliki usaha restoran di kawasan tersebut.
Subadra menegaskan, aksi pemasangan seng bukan semata wujud protes, melainkan dorongan agar pemerintah lebih cepat merespons keresahan warga setelah penutupan yang dinilai membuat ketidakpastian bagi pelaku usaha lokal.
“Aksi ini kami lakukan agar pemerintah mau duduk bersama mencari solusi terbaik. Kami berharap ada aturan baru agar persoalan seperti ini tidak terulang,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah kabupaten Tabanan serta Kepala Dinas Pariwisata Tabanan, belum bisa dikonfirmasi perihal tindak lanjut penanganan dari pemerintah daerah terhadap aksi protes sejumlah petani Jatiluwih.
Hal senada juga disampaikan I Nengah Sridana, mengungkapkan, pemasangan seng juga dilakukan di area Tempek Telabah Gede dan Tempek Telabah Muntig Subak Jatiluwih.
Selain seng, petani turut memasang plastik di pinggir jalan untuk merusak pemandangan sawah di Subak Jatiluwih yang menjadi daya tarik utama wisata.
Aksi lanjutan ini dilakukan agar pemerintah lebih memperhatikan nasib petani kecil yang menggantungkan hidup dari usaha sederhana di kawasan pertanian.
"Aksi ini kami lakukan supaya ke depannya usaha kecil tidak langsung ditindak. Kami ingin pemerintah mendengar suara rakyat, jangan hanya memberi janji," imbuhnya.***