Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Pemilihan Ketua MDA Buleleng Diwarnai Protes, Krama Kompak Menolak, Sebut Bercitra Buruk dan Tak Aktif di Adat

Eka Prasetya • Sabtu, 13 Desember 2025 | 16:05 WIB

Krama Desa Adat Banyuasri menyuarakan aspirasi mereka dengan membentangkan spanduk di lokasi paruman pemilihan Ketua MDA Buleleng.
Krama Desa Adat Banyuasri menyuarakan aspirasi mereka dengan membentangkan spanduk di lokasi paruman pemilihan Ketua MDA Buleleng.

Radarbadung.jawapos.com– Pemilihan dan pengukuhan Bendesa Madya (Ketua) Majelis Desa Adat (MDA) Buleleng, diwarnai drama penolakan keras dari warga.

Aksi tersebut menyasar salah satu calon, yakni I Nyoman Westha, dalam forum Paruman Madya di Gedung Wanita Laksmi Graha, Jumat (12/12) pagi.

Sejumlah krama Desa Adat Banyuasri turun ke lokasi, menyuarakan keberatan mereka terhadap pencalonan I Nyoman Westha sebagai salah satu prajuru madya MDA Buleleng.

Mereka menggelar aksi damai sambil membawa sejumlah spanduk bernada kritik tajam.

Spanduk yang dibentangkan antara lain bertuliskan, “Saudara Nyoman Westha Gagal Produk Pemilihan Kepengurusan MDA Kabupaten Buleleng. Batalkan Kepengurusan” dan “Drama di MDA Lebih Seru Dibanding Drakor di Youtube”.

Mereka menuntut proses yang transparan dan mendesak pembatalan pencalonan Westha.

Aksi krama bukan tanpa alasan. Mereka menyebut rekam jejak Westha selama bermasyarakat di desa memiliki citra yang buruk.

“Kami menolak. Karena track record beliau ini selama menjadi penyarikan (sekretaris) di MDA dan sebagai krama Banyuasri, punya citra yang buruk,” tegas Gede Surya, salah satu krama dalam aksi.

Baca Juga: Bahaya! Dua Anak di Bali Terpapar Radikalisme, Densus 88 dan KPAD Bergerak Cepat

Surya menambahkan, Westha dinilai tidak aktif mendukung kegiatan desa adat selama delapan tahun terakhir.

“Bahkan untuk nyakupang lima (sembahyang) saja ke (pura) Kahyangan Tiga tidak pernah. Apakah yang begini yang akan didudukkan sebagai bendesa madya?” kritiknya.

Riak penolakan juga sempat muncul dari dalam forum paruman. Bendesa Banyuasri, Nyoman Mangku Widiasa; Bendesa Sanih, Made Sukresna; dan Bendesa Alit MDA Kecamatan Sawan, Wayan Suma Wijaya ikut angkat bicara.

Menanggapi gejolak tersebut, Pimpinan Sidang Paruman, Made Wena, menegaskan bahwa proses seleksi prajuru madya sudah berlangsung sejak Oktober. Mekanisme seleksi, katanya, telah melalui sosialisasi dan penjaringan calon.

“Dalam proses penjaringan, ada 8 orang bakal calon yang mendapat dukungan. Kemudian MDA Bali melakukan penilaian dengan melibatkan 11 orang pakar di tingkat provinsi melalui proses wawancara,” jelas Wena, yang juga prajuru MDA Bali.

Delapan bakal calon tersebut diciutkan menjadi lima orang calon, yakni I Nyoman Westha, Nyoman Darmawartha, I Ketut Indrayasa, Gede Arsa Wijaya, dan Made Ardirat.

Baca Juga: Manggis Dikepung Banjir, Rumah Warga hingga Kandang Babi Terendam

“Wawancara itu bukan tes, tapi untuk menggali komitmen mereka. Setelah ditetapkan lima orang calon, mereka diberi kebebasan untuk menentukan siapa ketua dan struktur lain secara kolektif kolegial. Yang memilih ketua hanya lima orang itu, bukan kami,” tegasnya. Westha Santai Hadapi Protes

Sementara itu, I Nyoman Westha yang turut hadir dalam paruman merespons aksi krama dan riak-riak dengan santai.

“Menurut saya ini bukan penolakan, mungkin hanya mempertanyakan. Prosesnya demokratis, keputusan diambil dalam forum paruman,” kata Westha.

Setelah terpilih, ia memastikan tidak ada diskriminasi pelayanan. “169 desa adat Buleleng tetap harus kami rangkul. Tidak ada yang disepelekan. Kami menghormati perbedaan pendapat, tapi keputusan sudah diterima dengan baik,” tandasnya.

Adapun paruman tetap menyepakati I Nyoman Westha sebagai Bendesa Madya atau Ketua MDA Buleleng.

Ia akan didampingi I Ketut Indrayasa (Petajuh I) dan Nyoman Darmawartha (Petajuh II).

Sedangkan posisi Penyarikan Madya diisi oleh Made Ardirat dan Patengen Madya ditempati Gede Arsa Wijaya.***

Editor : Donny Tabelak
#MDA Buleleng #krama #Majelis Desa Adat #bendesa adat