Radarbadung.jawapos.com- Rencana pemanfaatan TPA Bangli sebagai lokasi penampungan sampah sementara dari Denpasar dan Badung, masih menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat Bali. Ini, setelah TPA Suwung akan ditutup permanen.
Di tengah kritik pedas yang disampaikan masyarakat Bangli atas rencana tersebut di media sosial, tersebar sebuah rekaman video yang mengungkapkan adanya permintaan Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta kepada masing-masing desa untuk membuat video menyatakan setuju atas pembuangan sampah Denpasar dan Badung ke Bangli.
Hal itu diperkuat dengan munculnya satu per satu rekaman video sejumlah perangkat desa yang menyatakan dukungannya terhadap pembuangan sampah sementara oleh Denpasar dan Badung ke Kabupaten Bangli di media sosial.
Hanya saja tidak sedikit pihak yang menyatakan tidak sepakat dengan hal tersebut di kolom komentar.
Sedana Arta yang dikonfirmasi terkait adanya rekaman video dengan latar suasana rapat yang menyatakan ia meminta desa-desa di Bangli membuat video pernyataan setuju atas pembuangan sampah Denpasar dan Badung ke Bangli, Minggu kemarin (4/1), ia enggan membahas hal tersebut.
Ia meminta agar fokus ke permasalahan sampah dan perkembangannya. ”Masalah sampah boleh dengan Kadis DLH karena sudah dilakukan rapat,” katanya.
Sebelumnya, Sedana Arta mengatakan pembuangan sampah Denpasar dan Badung ke Bangli baru sebatas rencana.
Namun pihaknya mengakui telah terjadi pembahasan mengenai hal itu di tingkat Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait masing-masing daerah. ”Belum ada PKS (Perjanjian Kerja Sama),” ungkapnya.
Dikatakannya, dalam Peraturan Daerah (Perda) Bangli memungkinkan bagi Bangli melakukan kerja sama dengan kabupaten lain dalam hal penanganan sampah melalui PKS.
Dan ia pun membuka diri terhadap wacana tersebut demi menjaga citra pariwisata Bali.
Sebab bila masalah sampah yang dialami Denpasar dan Badung terus berlarut, ia khawatir akan berdampak buruk terhadap citra pariwisata Bali yang sudah barang tentu akan mempengaruhi perekonomian masyarakat.
”Tetapi saya melihat Denpasar dan Badung memiliki komitmen tinggi untuk menyelesaikan sendiri sampahnya. Karena kalau bawa sampah ke Bangli, ongkosnya (biaya, red) mahal. Harus menyewa truk, belum bahan bakarnya,” bebernya.
Hanya saja bila kerja sama itu terjadi, pengelolaan sampah dari luar daerah tidak akan memakai APBD Bangli.
Justru ia akan meminta kontribusi daerah-daerah tersebut dalam pengolahan sampah.
Mulai dari sumber daya manusia (SDM) hingga peralatan seperti alat berat yang saat ini jumlahnya terbatas di TPA Bangli.***
Editor : Donny Tabelak