Radarbadung.jawapos.com– Dewan menyoroti masih terjadinya kebocoran air pada jaringan PDAM Tirta Tohlangkir.
Hal itu terungkap saat Komisi III DPRD Karangasem, melakukan rapat kerja dengan menghadirkan Direktur dan jajaran PDAM Tirta Tohlangkir pada Senin (26/1).
Rapat yang dipimpin Ketua Komisi III DPRD Karangasem, I Wayan Sunarta itu membahas banyak hal terkait kinerja PDAM.
Sunarta menilai, secara umum kinerja Perumda Tirta Tohlangkir selama 2025 berjalan sangat baik.
Hal itu terlihat dari capaian laba yang terus meningkat serta kondisi perusahaan yang dinilai sudah sehat.
”Secara umum kami sangat mengapresiasi kinerja Perumda Tirta Tohlangkir selama 2025 dan rencana kerja 2026. Kinerja direktur sangat bagus,” ucapnya memuji.
Ini terlihat dari laba tahun 2024 yang dibukukan pada 2025 sekitar Rp 4 miliar lebih, dan pada 2025 dirancang mencapai Rp 5 miliar.
”Tahun depan sudah masuk laba murni,” ujar Sunarta.
Meski demikian, Komisi III tetap menekankan agar persoalan kebocoran air atau non revenue water (NRW) terus diantisipasi dan ditekan.
Berdasarkan catatan Komisi III, tingkat kebocoran air PDAM Tirta Tohlangkir masih berada di bawah ambang nasional.
”NRW yang terjadi masih di bawah 25 persen, yakni sekitar 22 persen, masih di bawah rata-rata nasional. Namun upaya penurunan harus terus dilakukan,” tegasnya.
Sunarta juga mendorong agar pengembangan jaringan tidak hanya terfokus di Kecamatan Kubu sebagai titik sentral pengembangan, tetapi juga diperluas ke kecamatan lainnya di Karangasem.
”Harus merata, memang di Kubu harus menjadi prioritas karena cukup sulit di sana mendapat air,” kata Sunarta.
Sementara itu, Direktur Perumda Tirta Tohlangkir, I Komang Haryadi Parwata, mengakui kebocoran air masih menjadi tantangan.
Namun pihaknya terus melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan tokoh masyarakat untuk membantu pelaporan di lapangan.
”Kebocoran air bisa saja terjadi. Tapi kami selalu berkoordinasi dengan tokoh masyarakat agar segera melaporkan. Karena pencurian air itu juga masuk ranah pidana,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini kondisi perusahaan dinilai sudah sehat dan telah memenuhi kriteria rasio keuangan (RCF).
Tahun 2026 ini, Perumda Tirta Tohlangkir menargetkan laba Rp 5 miliar yang segera akan dibukukan setelah mendapatkan audit dari BPKP.
Selain itu, upaya identifikasi kebocoran terus dilakukan meski PDAM Tirta Tohlangkir belum memiliki sistem pendeteksi kebocoran modern seperti yang diterapkan di PDAM Surabaya.***