Radarbadung.jawapos.com- Hujan deras dan gelombang tinggi yang menerjang pesisir pantai di wilayah Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, tidak hanya berdampak pada aktivitas nelayan, tetapi juga para petani garam yang ada di desa tersebut.
Itu karena produksi garam tradisional di desa tersebut sangat bergantung pada terik matahari.
Nengah Kertayasa, seorang petani garam di Pantai Karangnadi, Desa Kusamba, Kamis (29/1) mengaku sudah tidak memproduksi garam tradisional Kusamba sejak 3 bulan terakhir.
Hujan deras yang terus mengguyur, ditambah gelombang tinggi yang menerjang tempat penggaraman, membuatnya tidak dapat memproduksi garam tradisional Kusamba.
”Kalau tempat menyiram air lautnya terkena hujan, sudah tidak bisa produksi garam di hari itu,” terangnya.
Selama tidak berproduksi, ia mengaku mengandalkan stok garam yang ada. Saat ini, hanya tersisa 50 kilogram garam yang dia miliki.
”Kalau panas trik, 1 hari bisa menghasilkan 10 kg lebih. Sejak awal tahun 2025, cuacanya tidak menentu seperti ini. Sering hujan,” katanya.
Di tengah tidak maksimalnya produksi garam, diungkapkannya pesanan garam tradisional Kusamba tengah menurun.
Bila biasanya ada saja orang yang datang ke Pantai Karangnadi membeli garam untuk kebutuhan Spa, konsumsi dan lainnya.
Kini mereka mengandalkan pesanan dari koperasi setempat sebanyak 100 kg per bulan untuk kebutuhan produksi garam beryodium.
”Pemesanannya melalui kelompok yang dibagi rata kepada anggota kelompok. Per orangnya bisa mendapat pesanan 10 kg. Tergantung stok masing-masing petani,” terangnya.
Sepinya pesanan garam tradisional Kusamba di Pantai Karangnadi, diduga lantaran adanya garam palsu mengatasnamakan garam tradisional Kusamba yang beredar di pasaran dengan harga lebih murah.
Di mana harga garam tradisional Kusamba di Pantai Karangnadi berkisar Rp20 ribu – Rp25 ribu per kilogramnya.
”Sulit kami jual di pasar tradisional karena pembeli maunya harga murah,” jelas pria yang mulai memproduksi garam sejak tahun 1984 itu.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama cuaca buruk dan sepinya pembeli, ia mengaku mengandalkan penjualan sari air laut atau yang lebih dikenal dengan istilah nigari atau yeh kembar.
Nigari ini merupakan salah satu bahan dalam pembuatan tahu. Ia mengaku dapat memproduksi nigari sebanyak 1 jeriken ukuran 35 liter per harinya ketika matahari cukup terik.
Namun saat mendung, butuh waktu dua hari untuk menghasilkan 1 jeriken nigari. ”1 jerikennya dihargai Rp100 ribu,” tandasnya.***
Editor : Donny Tabelak