Radarbadung.jawapos.com- Populasi babi di Bali mencapai 1,2 juta ekor karena menjadi bagian penting dalam berbagai upacara adat.
Namun, perlindungan kesehatan ternak babi masih minim padahal hewan ini sangat rentan terhadap penyakit, berbeda dengan ternak lain yang memiliki sistem vaksinasi yang lebih responsif.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengungkapkan, babi bisa terserang diare berat atau kolera jika pakan tidak diolah dengan baik.
Baru-baru ini, ditemukan 30 ekor babi yang terserang kolera di Buleleng.
"Karakteristik babi berbeda dengan hewan lain. Jika tidak ditangani dengan baik, kasus tersebut bisa memicu kematian massal," ujarnya, Kamis (19/2).
Selain kolera, babi juga berisiko tinggi terserang virus African Swine Fever (ASF) yang mematikan dan sangat menular.
Wabah ASF pernah menyebabkan kematian babi secara massal beberapa tahun lalu, namun hingga kini belum ada vaksin resmi untuk pencegahannya.
Sunada menyatakan, Dinas Pertanian bersama DPRD Bali tengah mengusulkan pengadaan vaksin ASF ke Kementerian Pertanian dan telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah pusat.
Data mencatat populasi babi Bali terus bertambah hingga mencapai 1,2 juta ekor pada tahun 2025.
Ketiadaan perlindungan ini juga menjadi keluhan para peternak.
Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum BPD HIPMI Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih (Ajus Linggih), kepada Menteri Pertanian dalam Sidang Dewan Pleno HIPMI di Makassar pada Minggu (15/2) lalu.
Politisi dari Partai Golkar itu menyoroti ketidakadilan perhatian, dimana ternak lain seperti sapi mendapatkan berbagai jenis vaksin, namun babi belum mendapatkan akses vaksin ASF.
Kondisi ini membuat peternak tertekan karena ancaman penyakit dan persaingan harga akibat masuknya babi dari luar daerah.
"Kami meminta agar impor babi dihentikan karena harga saat ini sedang menurun. Selain itu, peternak babi merasa dianaktirikan karena sulitnya mendapatkan vaksin ASF," jelasnya.***
Editor : Donny Tabelak