Radarbadung.jawapos.com- Hujan yang mengguyur Kota Denpasar pada Rabu (25/2) membuat suasana Pasar Kumbasari terasa sepi.
Di lantai dasar pasar, Halimah, 70, tahun duduk termangu di balik kiosnya berukuran 3x4 meter.
Wanita yang akrab disapa Nenek Imah ini telah berjualan puluhan tahun, namun sejak pagi hingga pukul 15.00 WITA tak mendapatkan satu pun pembeli.
"Sudah beberapa hari ini seperti ini, dari pagi belum ada pembeli sama sekali," ujarnya saat berbincang dengan Radarbadung.jawapos.com.
Kios yang menjual rempah-rempah, bumbu masakan, dan obat tradisional ini biasanya bisa meraih omzet Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari jika cuaca cerah.
Namun belakangan, omzetnya anjlok dan membuatnya harus mengeluarkan modal untuk kebutuhan makan sehari-hari.
"Kini harga barang dari supplier juga naik. Rempah-rempah dan ramuan tradisional saya ambil dari tengkulak di Surabaya hingga Sumatera, harganya naik karena ongkos kirim juga melonjak akibat cuaca ekstrem," jelasnya.
Meski demikian, Nenek Imah tetap membeli stok barang untuk tidak mengecewakan konsumen lama. Ia berusaha sabar menunggu kondisi membaik.
Tak hanya sepi pembeli yang membuatnya khawatir.
Wanita yang telah berjualan di Pasar Kumbasari sejak lama ini masih trauma dengan luapan Sungai Tukad Korea beberapa bulan lalu, yang merendam dan menghancurkan sebagian barang dagangan pedagang di Pasar Kumbasari dan Pasar Badung.
Kiosnya sendiri ikut terendam saat kejadian itu, barang dagangannya rusak tak bisa dijual lagi.
Meskipun pemerintah telah memberikan bantuan untuk renovasi kios, trauma mendalam masih menyertai dirinya.
"Hujan deras beberapa hari terakhir membuat debit sungai naik lagi. Bahkan pada Selasa (24/2), sirene peringatan bahaya sempat berbunyi. Kami para pedagang cukup was-was, takut kejadian itu terulang," pungkasnya.***
Editor : Donny Tabelak