Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Heboh, Antrean Truk Sampah dan Jalan Berlumpur Sambut Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup ke TPST Tahura Bali

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 5 Maret 2026 | 14:38 WIB

Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung pada Kamis (5/3) pukul 11.00 WITA disambut antrean truk sampah dan jalan berlumpur.
Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung pada Kamis (5/3) pukul 11.00 WITA disambut antrean truk sampah dan jalan berlumpur.

Radarbadung.jawapos.com- Kunjungan mendadak Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung pada Kamis (5/3) pukul 11.00 WITA tidak menunjukkan kondisi yang optimal.

Kedatangan menteri disambut pemandangan antrean truk sampah yang mengular hingga kawasan Desa Serangan, serta akses jalan di dalam area TPA yang rusak parah dan berlumpur akibat hujan.

Pembuangan sampah ke TPA Suwung saat ini telah dibatasi seiring penutupan akses jalan bagian selatan.

Namun, Pemerintah Provinsi Bali dinilai belum siap secara maksimal menangani sampah dan masih bergantung pada sistem open dumping.

Kondisi ini semakin terlihat pada dua Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tahura yang seharusnya mampu menyerap sampah Kota Denpasar.

Sayangnya, operasional keduanya belum berjalan maksimal akibat berbagai kendala.

Pengawas TPST, Made Widya Adnyana Astawa, mengungkapkan bahwa dari dua unit TPST yang ada, hanya TPST Tahura I yang sudah beroperasi sejak Desember 2025 lalu.

Sementara TPST Tahura II masih terbengkalai menunggu pemasangan mesin.

"TPST Tahura I saat ini hanya mampu mengelola 35 hingga 45 ton sampah per hari. Kendala utama adalah keterbatasan tenaga kerja dan daya listrik yang tidak memadai," jelasnya.

Sampah yang masuk ke TPST berasal dari depo di Denpasar Barat seperti Depo Jalan Pulau Kawe, Monang Maning, dan Jalan Gunung Karang.

Masalah teknis sering muncul ketika sampah basah masuk ke mesin pengolahan, yang menyebabkan kemacetan alat.

Saat ini, pengelola mengoperasikan tiga mesin gibrig dan dua mesin Energi Baru Terbarukan (EBT).

Mesin pelet yang tersedia belum bisa difungsikan karena kekurangan tenaga kerja dan daya listrik.

 Baca Juga: MBG di Tabanan Tak Sesuai Standar, Susu Wajib Ada Tapi Hilang

Hasil olahan sampah di TPST Tahura diproyeksikan menjadi kompos, pelet, dan Refuse Derived Fuel (RDF).

Kompos akan dibagikan gratis kepada masyarakat, sedangkan RDF dan pelet akan dijual ke pihak ketiga di kawasan Jalan Pulau Moyo, Denpasar. 

Operasional TPST dilakukan dalam tiga shift, mulai pukul 05.00 hingga 23.00 WITA.

Namun, jumlah pekerja masih jauh dari standar ideal.

"Shift pagi hanya ada 48 pekerja, siang 33 orang, dan sore 16 orang. Padahal minimal butuh 60 orang per shift. Sangat sulit mencari tenaga kerja yang mau memilah sampah, padahal target per orang minimal memilah 500 kg per hari," ujar Astawa.

Terdapat tiga mesin tambahan dengan total kapasitas 300 ton yang belum terpasang dan difungsikan.

Kendala utama adalah kebutuhan daya listrik yang mencapai 1 megawatt.

Hal ini menjadi sorotan utama Menteri LH Hanif Faisol selama kunjungannya yang berlangsung sekitar 30 menit, di mana ia juga menerima presentasi mengenai mesin baru tersebut.***

Editor : Donny Tabelak
#bali #menteri lingkungan hidup #desa serangan #Hanif Faisol Nurofiq #Tpst tahura #tpa suwung ditutup