Radarbadung.jawapos.com- Banjir bandang yang menerjang Desa Banjar, Buleleng, menyisakan duka mendalam bagi Kadek Witana.
Dalam sekejap, air bah merenggut istri dan dua anaknya.
Mata Kadek Witana, 45, tampak sembab. Sesekali buruh harian itu menyeka matanya dengan kedua tangan, mencoba menahan air mata yang terus menetes.
Di halaman rumahnya di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, yang kini masih dipenuhi lumpur, Witana berusaha menahan rasa sedih.
Dengan suara bergetar, ia mencoba mengingat kembali detik-detik bencana yang mengubah hidupnya untuk selamanya.
Banjir bandang yang menerjang Desa Banjar pada Jumat (6/3) sore tak sekadar merusak rumah dan menghanyutkan harta benda. Bagi Witana, bencana itu merenggut tiga orang paling berharga dalam hidupnya.
Baca Juga: Banjir Bandang di Banjar Buleleng Tewaskan 3 Orang, Satu Lagi Masih Dicari
Sang istri, Komang Suci, 44, serta dua anak mereka, Putu Wini, 17, dan Kadek Wahyu, 12, terseret arus air bah yang datang tiba-tiba.
Dari empat korban akibat banjir bandang di desa tersebut, tiga di antaranya adalah anggota keluarga Witana.
Setiap mengingat kejadian itu, tangisnya kembali pecah.
“Saya mau selamatkan orang tua di sebelah. Tiba-tiba ada air besar. Saya mau menyelamatkan istri dan anak-anak saya sudah tidak bisa, karena airnya besar sekali,” ucap Witana sesenggukan, ketika ditemui pada Minggu (8/3).
Sore itu, hujan deras mengguyur wilayah Banjar.
Aliran sungai tiba-tiba meluap. Air keruh bercampur lumpur, potongan kayu, dan berbagai material datang seperti gelombang besar yang menyapu permukiman warga.
Rumah yang dihuni Witana bersama keluarganya ikut menjadi sasaran terjangan air bah.
Apalagi, rumah tersebut hanya berjarak beberapa meter dari aliran Tukad Mendaum.
Baca Juga: Rekam Wanita di Toilet Bandara Ngurah Rai, Pria Jawa Barat Peras Korban dengan Video Asusila
Witana mengaku tidak menyadari bahaya yang datang begitu cepat.
Saat ia berusaha membantu ayahnya yang sudah lanjut usia di rumah sebelah, air bah lebih dulu menghantam rumahnya.
Dalam hitungan detik, keluarganya terseret arus deras.
Kini, di tempat yang sama, Witana hanya bisa memandangi rumahnya yang rusak.
Di teras rumah terlihat banten yang baru dihaturkan.
Lewat sarana persembahyangan itu, ia memanjatkan doa agar keluarganya yang hilang dapat ditemukan.
Salah seorang keluarga korban, Putu Sri Sutarini mengungkapkan, air bah datang sangat cepat.
Saat air mulai meluap, Putu Wini sempat meminta pertolongan kepada keluarga lainnya.
“Sempat telepon bibinya, teman-temannya, minta tolong karena air sudah masuk ke rumah. Sempat tersambung juga dengan pak kadus,” ungkapnya.
Perbekel Banjar, Ida Bagus Dedy Suyasa, mengungkapkan Putu Wini bahkan sempat mengirim video saat dirinya bersama ibu dan adiknya terjebak di dalam rumah.
Dalam video tersebut terlihat air sudah setinggi pinggang orang dewasa.
“Memang di lokasi itu, saat terjadi banjir airnya cukup tinggi. Sampai 2,5 meter,” ujar kepala desa yang akrab disapa Gus Romet itu.
Menurutnya, keluarga tersebut tergolong kurang mampu.
Rumah yang mereka tempati merupakan bantuan pemerintah melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang disalurkan pada 2025 lalu.
“Rumahnya baru selesai tahun lalu, sekitar November. Dindingnya masih batako, lantainya sudah disemen. Memang mereka keluarga kurang mampu,” jelasnya.
Hingga Minggu (8/3), tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian korban banjir bandang di Desa Banjar.
Ratusan personel dikerahkan menyisir aliran sungai hingga ke perairan laut.
Dari empat warga yang sempat dinyatakan hilang, tiga korban telah ditemukan. Mereka adalah Dewa Ketut Adi Suarjana, 55; Komang Suci, 44; serta Kadek Wahyu, 12. Sementara Putu Wini, 17, hingga kini masih dalam pencarian.***
Editor : Donny Tabelak