Radarbadung.jawapos.com– Keterbatasan obat stroke di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan menjadi perbincangan hangat setelah voice note seorang dokter marah-matah.
Dokter yang marah mengeluhkan kondisi tersebut menyebar luas di media sosial.
Menanggapi hal itu, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya mengaku terkejut dan langsung meminta maaf kepada seluruh masyarakat Tabanan.
Masalah ini muncul ketika dokter akan memberikan tindakan pengobatan kepada pasien, namun obat yang dibutuhkan tidak tersedia.
Saat ditemui setelah sidang paripurna penyampaian Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten (LKPJ) tahun 2025, Sanjaya mengatakan telah menerima keluhan dari salah satu dokter senior terkait ketersediaan obat di rumah sakit milik daerah tersebut.
"Saya sangat kaget mendengar hal itu. Kami sudah segera memeriksa kebenaran kepada Direktur RSUD Tabanan," ucap Sanjaya.
Menurut klarifikasi pihak RSUD, kekurangan obat disebabkan keterlambatan proses administrasi akibat peralihan sistem rekaman medis elektronik (RME) dari cara manual ke sistem digital yang sesuai standar BPJS Kesehatan.
"Para dokter harus menyesuaikan diri, karena asisten tidak bisa lagi membantu dalam prosesnya. Sistem digital tidak bisa diwakilkan, sehingga berdampak pada klaim BPJS yang tidak bisa terbayarkan – termasuk untuk pembelian obat," jelasnya.
Sanjaya menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi langsung dengan BPJS.
"Insya Allah besok kondisi bisa kembali normal. Perubahan sistem ini memang bertujuan untuk transparansi dan akurasi, jadi ini menjadi pelajaran bagi kita semua," katanya.
Atas nama pemerintah Kabupaten Tabanan, dia mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya.
"Kami sudah memberikan peringatan kepada direksi RSUD. Jika tidak paham teknologi, segera cari tenaga ahli yang kompeten. Jangan sampai teknologi jadi alasan untuk tidak melayani masyarakat dengan baik," pungkasnya.
Di sisi lain, Ketua DPRD Tabanan I Nyoman Arnawa menyatakan sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi di RSUD Tabanan.
"Kami sangat menyayangkan, rumah sakit plat merah justru tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik dalam hal pelayanan medis bagi warga yang sedang sakit," ujarnya.
Arnawa menilai ada kekurangan dalam manajemen dan operasional RSUD Tabanan, terlihat dari berbagai masalah mulai dari obat yang habis, pelayanan yang kurang memadai, hingga jasa pelayanan yang tidak terbayarkan.
"Kami sudah menginstruksikan Komisi IV untuk segera memanggil seluruh pihak terkait RSUD Tabanan. Manajemen rumah sakit harus dievaluasi secara mendalam – ini adalah masalah kinerja, bukan sekadar mengikuti tren teknologi tanpa persiapan yang matang," tegasnya.***
Editor : Donny Tabelak