Radarbadung.jawapos.com- Libur panjang akibat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah tidak memberikan dampak yang signifikan bagi okupansi hotel di Bali.
Meskipun terjadi kenaikan setelah Hari Raya Nyepi, angka peningkatan tergolong kecil.
"Kalau sebelumnya sekitar 55–60 persen, meningkat ke 60–65 persen, jadi naik sekitar lima persen saja," ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau lebih dikenal sebagai Cok Ace, Senin (24/3).
Hari Raya Nyepi jatuh pada Kamis (19/3), sedangkan Hari Raya Idulfitri berlangsung pada Sabtu-Minggu (21-22/3), sehingga menciptakan rentetan libur lebih dari sepekan.
Baca Juga: Diminta Cabut Laporan Kasus Batu Ampar, Pelapor Diiming-imingi Rp 50 Miliar
Peningkatan okupansi terbesar terkonsentrasi di kawasan wisata utama seperti Nusa Dua, Seminyak, Sanur, dan Ubud.
"Kawasan yang paling menonjol adalah keempat kawasan itu," ujarnya.
Namun, tren positif tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama.
Padahal, biasanya pada bulan April dan Mei terjadi lonjakan kunjungan wisatawan akibat libur Paskah.
Cok Ace menjelaskan, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) saat ini melesu akibat konflik di Timur Tengah yang menjadi pusat transit penting bagi wisatawan Eropa—pasar andalan pariwisata Bali.
"Tahun ini peningkatan tidak sesuai harapan karena kondisi di sana," ucap mantan Wakil Gubernur Bali itu.***
Editor : Donny Tabelak