Radarbadung.jawapos.com- Konflik di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak pada sektor pariwisata Indonesia.
Menteri Pariwisata (Menpar) RI Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan, setidaknya 377 penerbangan menuju Indonesia dari kawasan tersebut telah dibatalkan, yang berdampak pada sekitar 50 ribu penumpang yang gagal berkunjung.
"Kami telah mendata bahwa ada beberapa penerbangan dari Timur Tengah yang dibatalkan, sekitar 377 penerbangan. Ada sekitar 50 ribu penumpang yang tidak bisa datang ke Indonesia, bukan saja ke Bali tetapi juga ke destinasi lain seperti Jakarta," ujar Menpar saat melakukan kunjungan kerja di salah satu kebun binatang di Gianyar, Rabu (25/3).
Menurutnya, dampak penurunan konektivitas udara ini tidak hanya dirasakan di Bali, melainkan juga di destinasi utama lainnya seperti Jakarta, yang secara otomatis menekan angka kunjungan wisatawan mancanegara.
Pemerintah saat ini masih tengah mengkaji apakah situasi ini bersifat sementara atau berpotensi menjadi tekanan dalam jangka panjang.
"Kami masih mengkaji terus bagaimana kelanjutannya, apakah ini sementara atau jangka panjang," tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Pariwisata telah menyusun sejumlah strategi adaptif.
Di antaranya adalah peningkatan konektivitas penerbangan serta perluasan promosi di pasar internasional, khususnya kawasan Eropa.
"Kami akan membuat strategi untuk meningkatkan konektivitas, memperbanyak promosi, dan meningkatkan penerbangan langsung terutama ke Eropa," jelas Menpar.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri pariwisata di Bali terus berinovasi dan melihat peluang dari pasar alternatif.
General Manager Bali Safari and Marine Park, Hans Manangsang, mengakui adanya penurunan jumlah penerbangan internasional dari kawasan Timur Tengah, namun optimis dengan langkah yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata.
"Kami optimistis, dengan strategi Ibu Menteri, wisatawan mancanegara bisa pulih. Bisa mengandalkan pasar Oceania, Australia, Pasifik, dan lainnya," ujarnya.
Menurut Hans, pertumbuhan kunjungan wisatawan saat ini masih bergerak secara moderat dengan proyeksi kenaikan sekitar 3,5 persen.
Karakter pariwisata Bali memang cenderung fluktuatif mengikuti siklus pasar global.
"Ada sesi Rusia, sesi Asia, ada juga domestik. Semua bergantian," ungkapnya.
Saat libur panjang Hari Raya Nyepi-Idulfitri 2026 lalu, kebun binatang yang dipimpinnya bahkan dibanjiri pengunjung.
"Kalau lagi high season seperti ini, kunjungan bisa tembus 4 ribu orang per hari. Hari biasa hanya sekitar 1.500," pungkasnya.***
Editor : Donny Tabelak