Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Alih Fungsi Lahan Menggila di Bali, Nasib Subak Bali Terancam Punah

Adrian Suwanto • Sabtu, 4 April 2026 | 16:25 WIB
Petani di Bali saat panen padi. Saat ini, alih fungsi lahan di Bali menjadi sorotan. (Foto Adrian Suwanto)
Petani di Bali saat panen padi. Saat ini, alih fungsi lahan di Bali menjadi sorotan. (Foto Adrian Suwanto)

Radarbadung.jawapos.com– Front Demokrasi Perjuangan Rakyat (FRONTIER) Bali bekerja sama dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Brahmastra Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa (IGBS) menggelar acara diskusi rutin Tancepan Brahmastra ke-12.

Kegiatan yang berlangsung di kampus UHN IGBS Denpasar, Sabtu (4/4), ini mengusung tajuk “Membedah Ajaran Tri Hita Karana Dalam Upaya Pelestarian Lingkungan Masyarakat Bali”.

Acara ini menghadirkan dua pembicara kunci, yaitu Dr. I Ketut Arta Widana, S.S., M.Par (Dosen UHN IGBS Denpasar) serta Anak Agung Gede Surya Sentana, S.Fil (Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Bali).

Selain sesi diskusi, kegiatan juga dimeriahkan dengan pemutaran film dokumenter yang menyoroti kondisi riali subak di Bali serta dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai kampus.
 
Sekretaris Jenderal FRONTIER Bali, I Wayan Sathya Tirtayasa, dalam paparannya menyayangkan kondisi subak yang dinilai semakin terancam secara masif.

Menurutnya, ledakan pariwisata yang tidak dibarengi dengan pengendalian ketat dari pemerintah memicu tingginya alih fungsi lahan pertanian.
 
“Kesejahteraan petani tidak diperhatikan, sehingga masyarakat semakin sulit menekuni profesinya sebagai petani. Akhirnya, mereka terpaksa menjual sawahnya demi memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.
 
Lebih lanjut, Tirtayasa menilai kebijakan yang telah dibuat pemerintah selama ini seringkali hanya berhenti sebagai wacana dan lemah dalam implementasi.

Hal ini terlihat dari maraknya pelanggaran yang dilakukan oleh pihak investor, namun jarang mendapatkan sanksi tegas, sehingga kerusakan lahan pertanian tak terelakkan.
 
Sementara itu, Pimpinan Umum LPM Brahmastra, I Gusti Ngurah Alit Pertama, menegaskan bahwa mahasiswa harus bersikap kritis terhadap kondisi kerusakan lingkungan yang terjadi.

Menurutnya, forum Tancepan Brahmastra ini menjadi wadah yang tepat untuk mengingatkan kembali ajaran Tri Hita Karana sebagai warisan leluhur yang seharusnya menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan alam.
 
“Adanya Tancepan ini sebagai wadah kritis bagi mahasiswa, menjadi ruang diskusi mengenai kondisi lingkungan di Bali sekaligus mengingatkan kembali ajaran Tri Hita Karana sebagai ajaran leluhur masyarakat adat Bali,” ucapnya.***

Editor : Donny Tabelak
#subak #sawah #mahasiswa #petani #alih fungsi lahan