Radarbadung.jawapos.com– Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak nyata di sektor riil Bali.
Harga bahan baku plastik melonjak drastis hingga mencapai 50 persen, memaksa para pedagang menaikkan harga jualan demi menutupi biaya operasional yang membengkak.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPW IKAPPI) Bali, Sudadi Murtadho, membenarkan kondisi tersebut.
Menurutnya, kenaikan harga ini utamanya dipicu oleh terganggunya rantai pasok impor bahan baku plastik.
"Kenaikan ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak memasuki momen Ramadan lalu. Penyebab utamanya adalah gejolak geopolitik global yang membuat pasokan bahan baku terganggu," ujar pria yang akrab disapa Edo, Rabu (8/4).
Edo memerinci, lonjakan harga terjadi pada hampir semua jenis kemasan.
Salah satunya plastik kresek yang sebelumnya Rp10.000 per pack, kini tembus menjadi Rp15.000.
Begitu juga jenis plastik lainnya yang naik rata-rata Rp5.000, dari Rp20.000 menjadi Rp25.000 per pack.
"Memang ini risiko jika kita masih sangat bergantung pada impor. Dampak perang atau konflik di luar negeri langsung terasa di sini," tegasnya.
Kondisi ini membuat para pedagang pasar "menjerit".
Karena biaya operasional meningkat tajam, satu-satunya jalan yang bisa diambil adalah menyesuaikan atau menaikkan harga barang dagangan.
"Pedagang yang setiap harinya menggunakan plastik tentu sudah teriak-teriak. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga barang jualan di pasar," tandas Edo.***