Radarbadung.jawapos.com– Kondisi Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) di Kabupaten Buleleng kini memprihatinkan.
Hingga saat ini, stok beras yang tersedia hanya tercatat sebanyak 11,2 ton.
Jumlah tersebut masih sangat jauh dari target ideal yang ditetapkan dalam peraturan daerah, yakni harus mencapai 50 ton per tahun.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP) Buleleng, Gede Melandrat, membenarkan hal tersebut.
Ia menjelaskan, pemenuhan target ini sangat bergantung pada kemampuan keuangan daerah.
”Sesuai peraturan daerah, targetnya memang 50 ton per tahun. Namun realisasinya harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan daerah yang ada,” ujar Melandrat, Minggu (12/4).
Menipisnya stok ini tak lepas dari dampak penanganan bencana alam yang terjadi sebelumnya.
Pada Februari 2026 lalu, stok sempat berada di angka 29,3 ton.
Namun, sebanyak 18,14 ton harus disalurkan untuk membantu warga terdampak banjir bandang di Kecamatan Banjar, sehingga sisa stok kini tinggal sedikit.
Untuk memperkuat cadangan, Pemkab Buleleng sebenarnya telah merencanakan pengadaan tambahan sebanyak 7 ton pada tahun anggaran 2026.
Meski anggaran sudah siap, proses pembelian baru bisa dieksekusi pada semester kedua atau pertengahan tahun ini.
Selain soal anggaran, kendala lain yang dihadapi adalah keterbatasan fasilitas penyimpanan.
Kapasitas gudang yang tidak memadai membuat pemerintah daerah sulit menyimpan beras dalam jumlah besar secara mandiri.
Solusinya, Pemkab menjalin kerja sama pengelolaan dengan Perumda Swatantra.
Skema ini dinilai lebih efektif dibandingkan menyimpan di Bulog yang memiliki batasan masa simpan.
”Kapasitas penyimpanan kami terbatas, jadi kami bekerja sama dengan Perumda Swatantra. Prinsipnya, beras tersebut dikelola agar kualitasnya tetap terjaga, namun harus tersedia sewaktu-waktu jika dibutuhkan untuk penanganan darurat,” pungkasnya.***