Dua Kasus Rabies Ditemukan, 17.981 Anjing di Denpasar Sudah Divaksin
Adrian Suwanto• Minggu, 19 April 2026 | 06:50 WIB
Kasus rabies kembali ditemukan di Kota Denpasar. Tampak anjing liar berkeliaran di Pantai. (Foto Adrian Suwanto)
Radarbadung.jawapos.com– Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit rabies terus digenjot di Kota Denpasar.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Denpasar, drh. Ni Made Suparmi, menyampaikan hal tersebut, Kamis (16/4).
Menurutnya, target vaksinasi yang ingin dicapai sepanjang tahun 2026 adalah mencapai 92,65 persen cakupan.
"Sejak Januari hingga saat ini, ditemukan dua kasus anjing positif rabies. Kedua kasus ini berasal dari anjing liar yang ditemukan di wilayah Denpasar Barat," ungkapnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan kasus penularan rabies pada manusia. Pihaknya berkomitmen mengejar target vaksinasi demi menekan angka positif dan mengembalikan status Denpasar menuju zero rabies.
Untuk memperluas cakupan, Dinas Pertanian tidak hanya melakukan vaksinasi door to door, tetapi juga membentuk Tim Siaga Rabies (Tisara) di tingkat desa dan kelurahan.
Tim ini bertugas mendata populasi anjing, baik yang dipelihara maupun liar, serta memantau Hewan Penular Rabies (HPR).
"Pendataan ini penting untuk mengetahui populasi anjing liar, sehingga penyebaran rabies dapat ditekan. Masyarakat juga diimbau aktif melapor jika ada kasus gigitan atau anjing yang mencurigakan," tambahnya.
Selain vaksinasi, pihaknya juga terus melakukan edukasi bahaya rabies, monitoring, hingga program selektif euthanasia dan kontrol populasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar, AA Gde Bayu Brahmasta, menyoroti fakta bahwa sekitar 30 persen anjing di Denpasar adalah anjing liar, baik yang memang tanpa pemilik maupun yang sengaja dibiarkan liar.
Banyaknya anjing liar ini seringkali bermula dari kebiasaan warga yang membuang anak anjing di tempat sepi atau pinggir pantai.
"Kami minta masyarakat tidak membuang anak anjing sembarangan, karena mereka akan tumbuh menjadi anjing liar yang berpotensi menularkan penyakit," ujarnya.
Selain itu, Bayu juga mengimbau warga untuk tidak memberi makan anjing di tempat umum atau keramaian seperti di depan warung. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir risiko gigitan dan penumpukan populasi anjing di satu titik.***