Waspada! Ada 9 Ancaman Bencana di Tabanan, Termasuk Tsunami
Juliadi Radar Bali• Jumat, 24 April 2026 | 06:48 WIB
Suasana Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka reviu Dokumen Kajian Risiko Bencana Tahun 2022–2026 Tabanan, pada Kamis (23/4) kemarin. (Foto Juliadi)
Radarbadung.jawapos.com– Pemerintah Kabupaten Tabanan mengidentifikasi adanya sembilan jenis ancaman bencana alam yang berpotensi terjadi di wilayahnya, dari total 14 jenis yang dipetakan.
Ancaman ini mencakup tanah longsor, banjir, hingga risiko tsunami di pesisir selatan.
Hal tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) reviu Dokumen Kajian Risiko Bencana Tahun 2022–2026, Kamis (23/4).
Sekretaris Daerah (Sekda) Tabanan, I Gede Susila, menjelaskan bahwa kondisi geografis dan topografi wilayah menjadi faktor utama tingginya risiko ini.
"Luas wilayah Tabanan mencapai 849,31 km persegi dengan kontur yang bervariasi, mulai dari perbukitan, dataran rendah, hingga pesisir pantai. Ini membuat potensi bencana cukup beragam," ujar Susila.
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan, tanah longsor dan banjir bandang dominan terjadi di wilayah pegunungan seperti Kecamatan Pupuan, Penebel, Baturiti, dan Marga.
Selanjutnya, banjir juga rawan melanda dataran rendah di Kediri, Tabanan, dan Marga.
Pun rsunami berpotensi terjadi di sepanjang pantai selatan.
Sementara kekeringan mengancam wilayah Selemadeg dan Selemadeg Timur saat musim kemarau.
Perlu diwaspadai, kebakaran berisiko tinggi di wilayah perkotaan padat penduduk.
Kabar baiknya, potensi kebakaran hutan dinilai relatif rendah karena kondisi hutan di wilayah ini masih terjaga dengan baik.
Susila menekankan, kajian risiko ini menjadi dokumen fundamental yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan daerah, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan pasca bencana.
Sementara itu, Kepala BPBD Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri, menambahkan bahwa penyusunan dokumen ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar data yang dihasilkan akurat dan aplikatif.
"Kami berharap dokumen ini bisa menjadi acuan bersama. Saat bencana terjadi, penanganan bisa lebih cepat dan tepat karena datanya sudah jelas," pungkasnya.***