Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Kontribusi Pertanian Besar, Pengangguran Tabanan Terus Menyusut

Juliadi Radar Bali • Sabtu, 9 Mei 2026 | 15:08 WIB
Ilustrasi, Ketersediaan lapangan kerja di Tabanan yang cukup tinggi berhasil menekan angka pengangguran terbuka, dengan sektor UMKM dan pertanian menjadi penyumbang serapan tenaga kerja terbesar.(Ai)
Ilustrasi, Ketersediaan lapangan kerja di Tabanan yang cukup tinggi berhasil menekan angka pengangguran terbuka, dengan sektor UMKM dan pertanian menjadi penyumbang serapan tenaga kerja terbesar.(Ai)

Radarbadung.jawapos.com– Di tengah tantangan ekonomi global akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian geopolitik, kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Tabanan justru menunjukkan tren positif.

Ketersediaan lapangan kerja yang cukup tinggi berhasil menekan angka pengangguran terbuka, dengan sektor UMKM dan pertanian menjadi penyumbang serapan tenaga kerja terbesar.

Berdasarkan data rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Tabanan yang disampaikan dalam Forum Konsultasi Publik, Kamis (7/5), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Tabanan turun signifikan dari 1,85 persen pada tahun 2024 menjadi 1,58 persen di tahun 2025.

Penurunan sebesar 0,27 persen ini dinilai sebagai cerminan keberhasilan pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Kepala BPS Tabanan, Ni Putu Minarni, menjelaskan, sektor perdagangan besar dan eceran serta UMKM menjadi penyumbang lapangan kerja terbesar dengan persentase mencapai 19,68 persen.

Tak kalah vital, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menempati urutan kedua dengan serapan tenaga kerja sebesar 19,22 persen.

Di posisi ketiga terdapat sektor pariwisata dan penyediaan akomodasi sebesar 14,85 persen.

“Pertanian masih menjadi penyangga utama pasokan kebutuhan pokok di Tabanan, itulah sebabnya sektor ini tetap kuat menyerap tenaga kerja meski dihadapkan pada isu alih fungsi lahan,” jelas Minarni.

Meski grafik pengangguran terus menurun, BPS mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih harus dihadapi. Salah satunya adalah kesenjangan kompetensi atau skills mismatch.

Data menunjukkan 39 persen angkatan kerja di Tabanan merupakan lulusan SMA/SMK dan 21 persen lainnya adalah lulusan pendidikan tinggi.

Sayangnya, jenis lapangan kerja yang tersedia belum sepenuhnya sesuai dengan kualifikasi pendidikan tersebut.

Selain itu, terdapat sebanyak 4.310 pemuda yang masuk dalam kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training).

Kelompok ini terdiri dari pemuda yang tidak sedang sekolah maupun bekerja, termasuk di dalamnya mereka yang tidak aktif mencari kerja seperti ibu rumah tangga muda atau individu yang memilih menekuni hobi.

Angka ini berbeda dengan kategori pengangguran murni yang secara aktif mencari pekerjaan namun belum mendapatkannya.

Minarni menegaskan, ke depan diperlukan strategi penciptaan lapangan kerja yang tidak hanya banyak jumlahnya, namun juga berkelanjutan, menawarkan upah layak, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar tenaga kerja modern.***

Editor : Donny Tabelak
#tabanan #ekonomi #pertanian #pariwisata #umkm