Lebih dari Sekadar Sedekah: Makna Dibalik Langkah Para Bhikku Menempuh 2,1 Km
Adrian Suwanto• Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:21 WIB
Prosesi Pindapata di Jalan Gunung Agung Denpasar, jalur yang dilalui para bhikku menuju Vihara Buddha Sakyamuni. Tradisi berbagi sedekah ini digelar sebagai rangkaian perayaan Tri Hari Suci Waisak.(Foto Adrian Suwanto)
Radarbadung.jawapos.com– Menyambut perayaan Tri Suci Waisak 2570 yang puncaknya jatuh pada 31 Mei 2026 mendatang, Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar menggelar prosesi sakral Pindapata pada Kamis (14/5).
Sebanyak delapan orang bhikku berjalan kaki menempuh rute sepanjang 2,1 kilometer, mulai dari depan Circle K Jalan Gunung Agung hingga kembali menuju kompleks vihara.
Prosesi yang dimulai pukul 06.00 WITA ini berlangsung selama kurang lebih dua jam, diiringi antusiasme masyarakat yang sangat tinggi.
Sepanjang jalan yang dilalui, ribuan warga berbaris rapi untuk memberikan sedekah berupa makanan dan minuman kepada para bhikku.
Keunikan tradisi tahunan ini terlihat dari partisipasi masyarakat yang tidak hanya berasal dari kalangan umat Buddha, namun juga melibatkan masyarakat lintas agama yang ingin ikut menanamkan nilai kebaikan dan berbagi sesama.
Salah satu warga yang turut berpartisipasi adalah Sri Nur Wahyuni, mahasiswa asal Bandung, Jawa Barat.
Meski baru menetap di Bali tahun ini, ia sudah mengikuti tradisi ini mengikuti jejak orang tuanya yang telah berpartisipasi sejak tahun 2023.
Baginya, semangat berbagi tidak terbatas pada satu kelompok atau agama saja.
“Ini pertama kali saya ikut langsung. Bagi saya, berbagi itu bukan kewajiban satu umat saja, melainkan semua orang. Berbagi tulus dari hati tidak harus hanya kepada sesama agamanya, tapi siapa saja yang membutuhkan,” ujar Wahyuni sambil menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk dibagikan.
Pengurus Yayasan Vihara Buddha Sakyamuni, Pandita Sudiarta Indrajaya, menjelaskan bahwa kegiatan Pindapata ini digelar serentak di berbagai wilayah di Indonesia.
Tujuan utamanya adalah membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berbuat kebajikan, sekaligus menghidupkan kembali cara hidup para bhikku sebagaimana yang dicontohkan Sang Buddha dan para pertapa di masa lalu.
“Hasil dari Pindapata nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan para bhikku, dan kelebihannya akan kami salurkan kembali untuk membantu mereka yang membutuhkan. Selain Pindapata, rangkaian menyambut Waisak tahun ini juga kami isi dengan kegiatan lain seperti sebulan pengkajian ajaran Dhamma, puja bhakti setiap malam, hingga kegiatan puasa pada hari Purnama dan Tilem,” papar Sudiarta.
Sementara itu, Bhikku Pabhajayo, salah satu pembina umat Buddha di Bali yang turut berjalan dalam barisan, memaparkan makna mendalam di balik tradisi ini.
Menurutnya, Pindapata sejatinya adalah cara hidup para bhikku, di mana mereka hidup sederhana dan disokong oleh dukungan umat.
Dahulu, kegiatan ini dilakukan setiap hari, namun di masa kini dan di lingkungan perkotaan, tradisi ini dilaksanakan secara berkala setahun dua kali, terutama pada momen sakral seperti Waisak.
“Pindapata adalah aktivitas menerima derma kebutuhan makanan dari umat. Lazimnya dilakukan pagi hari, dan para bhikku menggunakannya untuk menunjang kehidupan sehari-hari dengan aturan tidak makan lewat dari pukul 12.00 siang.
Di masa lalu ini adalah kebiasaan harian, tapi sekarang menjadi momen pertemuan istimewa antara umat dan para bhikku di jalan umum,” ungkap Bhikku Pabhajayo.
Ia menambahkan, tradisi ini tetap dilestarikan di Denpasar setiap bulan Mei jelang Waisak.
Tujuannya selain menjaga warisan leluhur, juga sebagai sarana memperkenalkan ajaran kasih dan berbagi, serta mempererat sinergi yang indah antara umat, para bhikku, dan masyarakat luas dalam keberagaman.***