Radarbadung.jawapos.com– Serangan hama lalat buah menjadi masalah utama yang mengancam produktivitas dan hasil panen tanaman jeruk di wilayah Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Gianyar.
Menanggapi dampak kerugian yang terus dialami para petani, pihak desa meminta Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa (Unwar) untuk turun tangan membantu menciptakan inovasi teknologi yang efektif guna mengendalikan hama tersebut.
Harapan dan permohonan itu disampaikan langsung oleh Kepala Desa Buahan Kaja, I Wayan Wirtama, di sela-sela kegiatan pengabdian masyarakat nasional yang berlangsung di desanya, Kamis (21/5).
Ia menjelaskan, dari berbagai tantangan dalam bertani, keberadaan lalat buah merupakan penyebab paling utama yang membuat hasil panen gagal atau menurun drastis kualitas maupun kuantitasnya.
"Dari berbagai kendala, lalat buah menjadi penyebab utama menggagalkan hasil panen petani. Faktor penyebab kegagalan terbesar memang berasal dari hama ini," ungkap Wirtama saat menyampaikan keluhan yang dihimpun dari para petani.
Berdasarkan catatan dan perhitungan di lapangan, serangan hama ini dinilai paling merugikan dibandingkan masalah pertanian lainnya.
Setiap kali memasuki masa panen, kerusakan akibat lalat buah mampu memangkas hasil produksi hingga mencapai angka 20 persen sampai 30 persen.
Angka kerugian ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan jenis kerusakan lain seperti pembusukan pada batang atau akar.
Menurut Wirtama, jika tanaman hanya mengalami pembusukan sebagian, petani masih bisa melakukan penanganan, misalnya dengan memotong bagian yang rusak agar nantinya tumbuh tunas atau cabang baru yang kembali berproduksi.
Berbeda dengan serangan lalat buah yang langsung merusak buah yang akan dipanen.
"Kalau pembusukan masih bersifat sebagian, ya masih bisa dipotong. Nanti akan muncul cabang baru lagi, dan dengan pemeliharaan yang baik, pohon itu akan berbuah kembali. Tapi kalau diserang lalat buah, buah yang seharusnya kita panen justru rusak atau tidak berkualitas," jelasnya.
Pihak desa sangat berharap para akademisi dari Unwar dapat memberikan tambahan pengetahuan dan solusi nyata bagi para petani.
Tidak hanya soal pengendalian hama, petani juga membutuhkan pendampingan teknis budidaya lainnya, mulai dari cara pengolahan hingga teknik pemupukan yang benar agar tanaman lebih sehat dan tahan serangan.
Wirtama menegaskan, karena lalat buah adalah hama yang paling dominan menyerang di wilayahnya, maka keberhasilan dalam mengendalikan hama tersebut akan berdampak sangat besar secara ekonomi.
Pengendalian yang baik dipastikan akan mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan para petani.
"Artinya, karena ini hama yang paling dominan, kalau ini bisa dikendalikan dengan baik, otomatis akan ada peningkatan pendapatan yang signifikan bagi petani. Ini harapan besar kami kepada perguruan tinggi," tegasnya.
Merespons keluhan dan harapan tersebut, Ketua Program Studi Agroteknologi Unwar, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si., memberikan penekanan penting terkait perubahan kebiasaan pemeliharaan tanaman.
Menurut pengamatannya, masih banyak kekeliruan mendasar yang dilakukan petani, salah satunya dalam penggunaan pupuk kandang.
Ia mengingatkan agar petani tidak lagi langsung mengaplikasikan kotoran ternak mentah ke lahan pertanian.
"Kotoran ternak itu harus difermentasi atau diolah dulu menjadi pupuk matang. Jangan langsung dituangkan atau ditaburkan ke tanaman dalam kondisi mentah. Respon yang diberikan tanaman akan lama dan kurang maksimal jika cara pemupukannya tidak benar," imbau I Gusti Bagus Udayana untuk mengubah cara bertani yang kurang tepat tersebut.***