Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Kenaikan Kurs Dolar Dianggap Untungkan Eksportir, Pengusaha Mebel dan Kerajinan Bali Justru Menjerit

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 25 Mei 2026 | 14:16 WIB
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bali, Hani Duarsa. (Istimewa)
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bali, Hani Duarsa. (Istimewa)

Radarbadung.jawapos.com– Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kerap dianggap banyak pihak sebagai keuntungan bagi para pelaku usaha ekspor.

Namun anggapan itu dibantah tegas oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bali, Hani Duarsa.

Menurutnya, kenaikan nilai tukar dolar justru membuat para pengusaha di bidang ini semakin tertekan karena biaya produksi yang ikut membengkak tajam, hingga berujung pada pembatalan pesanan dari pembeli luar negeri.
 
Hani menjelaskan, sebagian bahan baku dan penunjang produksi seperti bahan penyelesaian produk, serta sejumlah komponen mebel masih harus didatangkan dari luar negeri dan dibayar menggunakan mata uang dolar.

Akibat kenaikan kurs tersebut, biaya untuk bahan penyelesaian saja melonjak hingga 32 persen.

Belum lagi biaya pengiriman barang melalui jalur darat rute Denpasar–Surabaya yang sejak Maret 2026 naik hingga dua kali lipat atau sekitar 100 persen.
 
Kondisi ini membuat para pengusaha kewalahan mengatur arus kas usaha, karena perubahan nilai tukar yang berlangsung cepat dan tidak menentu membuat perhitungan biaya menjadi sulit diprediksi.
 
“Dulu kami berani memberikan jaminan harga tetap hingga satu tahun ke depan, sekarang setiap ada pesanan baru harga harus kami sesuaikan lagi. Pembeli terutama dari Amerika Serikat banyak yang keberatan, bahkan saya sendiri mengalami penurunan jumlah pesanan hingga 20 persen dan ada yang sampai membatalkan kontrak karena menganggap harga yang baru tidak lagi masuk akal,” ungkap Hani.
 
Tekanan yang dihadapi semakin berat mengingat industri kerajinan dan mebel Bali juga harus bersaing ketat dengan produk dari negara lain seperti Vietnam, India, dan Tiongkok.

Hani menegaskan, jika pemerintah tidak segera melakukan langkah intervensi dan dukungan nyata, daya saing produk lokal bisa semakin tergerus dan sulit untuk bersaing di pasar global.
 
“Kondisi usaha kami saat ini benar-benar lesu. Kalau pemerintah hanya melihat dari luar seolah-olah kami untung, padahal di dalamnya biaya produksi melonjak luar biasa. Kalau tidak dibantu, kami pasti akan kalah bersaing dengan negara tetangga,” ujarnya.
 
Untuk mengurangi dampak buruk tersebut, pihaknya juga mengimbau seluruh anggota untuk mulai mengembangkan dan memaksimalkan pasar penjualan di dalam negeri, guna mengimbangi penurunan permintaan dari pasar ekspor.

Jika nilai tukar rupiah terus melemah dan kondisi tidak segera berubah, kinerja ekspor produk kerajinan Bali diprediksi akan terus menurun hingga akhir tahun 2026 mendatang.***

Editor : Donny Tabelak
#amerika serikat #bali #pengusaha #industri