Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Pulang Demi Keluarga, Mantan Pekerja di Kapal Pesiar Kini Sukses Jual Makanan Sehat, Produksi Naik 10 Kali Lipat

Marsellus Nabunome Pampur • Rabu, 27 Mei 2026 | 11:23 WIB
Vidya Prama Suganda saat ditemui di Denpasar. (Foto Marsellus Pampur)
Vidya Prama Suganda saat ditemui di Denpasar. (Foto Marsellus Pampur)

Radarbadung.jawapos.com– Vidya Prama Suganda, warga asal Banyuning, Buleleng, memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berkarir belasan tahun di kapal pesiar dan industri perhotelan Australia, demi berkumpul kembali bersama istri dan anak-anaknya di kampung halaman.

Kepulangannya bukan berakhir diam di rumah, melainkan menjadi awal kesuksesan baru lewat usaha olahan pangan sehat bernama brand RY Kitchen Bali, yang kini produknya tersebar di toko-toko ritel seluruh Bali.

Usaha ini dirintisnya sejak pertengahan tahun lalu, berawal dari permintaan sang istri agar tidak lagi bekerja jauh di luar negeri.

Berbekal pengalaman selama bertahun-tahun melayani tamu asing, Suganda menangkap satu peluang pasar yang menarik: kebutuhan akan makanan sehat dan berkualitas.

Ia melihat bahwa para tamu hotel sangat memperhatikan pola makan, sehingga ide itu dikembangkannya menjadi produk nyata.
 
“Dulu saya bekerja di hotel dan kapal pesiar, melihat kebiasaan tamu yang selalu cari makanan sehat. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak coba buat sendiri di sini? Awalnya produksi jumlah kecil saja, ternyata respon pasar sangat bagus,” ungkap Suganda saat ditemui di Denpasar.
 
Berbagai produk kini diproduksinya, mulai dari granola campuran kacang mete, biji bunga matahari, dan almond, hingga olahan nabati seperti abon vegetarian, kerupuk beras, produk olahan susu, dan garam tradisional.

Peningkatan permintaan terlihat sangat drastis.

Untuk produk granola misalnya, jika di awal ia hanya mampu memproduksi 1–3 kilogram per minggu, kini jumlah itu melonjak menjadi minimal 10 kilogram setiap minggunya.

Hal yang sama juga terjadi pada produk-produk lainnya.
 
Kelancaran bisnisnya ini, menurut Suganda, juga didukung oleh kemudahan layanan keuangan digital.

Sejak awal mendirikan usaha, ia menggunakan aplikasi BRImo untuk seluruh transaksi penjualannya.

Baginya, aplikasi ini sangat membantu efisiensi usaha.
 
“Saya pakai BRImo karena jauh lebih mudah, praktis, dan hemat biaya. Selama transaksi harian di bawah Rp500 ribu, tidak ada potongan biaya admin. Selain itu, saya bisa cek mutasi masuk secara real-time, transfer ke mana saja cepat, dan bayar kebutuhan operasional tanpa perlu repot ke bank. Semua jadi lebih lancar dan modern,” jelasnya.
 
Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyebutkan bahwa kehadiran BRImo adalah bentuk dukungan nyata dalam mendorong inklusi keuangan dan memajukan pelaku usaha lokal.

Kemudahan akses layanan keuangan digital dirancang untuk membantu pelaku usaha, termasuk di sektor pertanian dan pengolahan pangan, agar bisa berkembang lebih pesat, modern, dan berkelanjutan.
 
“Kami ingin kemajuan teknologi ini dirasakan manfaatnya oleh para pelaku usaha agar semakin maju dan mandiri, sama seperti apa yang sudah diraih oleh Suganda saat ini,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#pekerja migaran indonesia #buleleng #pmi #pangan #australia