Radarbadung.jawapos.com– Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah / 2026 yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, menjadi momen istimewa bagi warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Tabanan.
Mereka melestarikan tradisi khas Bali, yaitu ngejot, dengan membagikan daging kurban kepada masyarakat sekitar tanpa membedakan latar belakang agama, suku, ras, maupun golongan.
Ngejot sendiri merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Bali yang berarti berbagi makanan atau hidangan kepada tetangga sebagai wujud rasa persaudaraan dan kasih sayang.
Kegiatan ini dimulai sekitar pukul 12.30 WITA, tak lama setelah proses penyembelihan hewan kurban selesai dilakukan.
Pembagian dilakukan di lingkungan Sekretariat LDII Tabanan yang beralamat di Jalan Tarumanegara Nomor 28, Banjar Malkangin, Dajan Peken.
Uniknya, selain daging mentah yang dibagikan, warga juga menyiapkan hidangan siap santap.
Sebanyak tiga ekor kambing diolah menjadi gulai untuk dibagikan langsung kepada warga sekitar.
“Kami membagikan daging kurban ini secara inklusif untuk semua kalangan tanpa pandang perbedaan apa pun. Bagi warga yang tidak mengonsumsi daging sapi, kami berikan daging kambing, dan begitu pula sebaliknya,” ujar Ketua DPD LDII Tabanan, Maulana Sandijaya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini bertujuan utama untuk memelihara kerukunan dan persaudaraan antarwarga.
Dalam pelaksanaannya, mereka melibatkan generasi muda mulai dari tingkat SMP, SMA, hingga mahasiswa.
Kelompok muda ini berkeliling dari rumah ke rumah — berjalan kaki untuk jarak dekat dan menggunakan sepeda motor untuk lokasi yang agak jauh — tak lupa juga membagikan kepada kaum dhuafa dan warga kurang mampu.
“Kami libatkan anak muda agar mereka belajar menghargai perbedaan. Zaman boleh berubah dan teknologi boleh maju, namun sikap saling menghormati tidak boleh hilang,” tegasnya.
Lebih dari sekadar tradisi, berbagi kurban juga dimaknai sebagai bentuk kepedulian sosial.
Di tengah tekanan ekonomi akibat ketidakpastian kondisi global yang memicu kenaikan harga kebutuhan, aksi berbagi ini dianggap penting untuk mencegah kesenjangan yang semakin melebar.
“Kurban dan tradisi ngejot ini bukan sekadar ritual semata, melainkan wujud keadilan ekonomi. Daging yang kami bagikan adalah pernyataan bahwa kami tidak ingin kenyang sendirian selagi masih ada saudara yang membutuhkan,” tambah Sandijaya.
Pada perayaan tahun ini, warga LDII Tabanan menyembelih total 5 ekor sapi dan 17 ekor kambing.
Dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan, mereka juga menerapkan sejumlah langkah ramah lingkungan.
Wadah penyajian menggunakan besek dari anyaman bambu untuk mengurangi sampah plastik.
Selain itu, seluruh juru sembelih telah memiliki sertifikasi pelatihan penyembelihan hewan halal (juleha).
Pengelolaan limbah juga diperhatikan secara ketat: darah dan kotoran hewan tidak dibuang sembarangan, melainkan dikubur di lubang khusus. Untuk menetralisir bau, warga memanfaatkan cairan organik hasil fermentasi atau eco-enzyme.
“Pengelolaan limbah ini adalah wujud nyata dukungan kami terhadap program pemerintah dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak