Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Suhu Udara di Bali Lebih Dingin, BMKG: Fenomena Ini Lumrah Terjadi Akibat Pengaruh Monsun Australia

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 1 Juni 2026 | 05:29 WIB
BMKG memprakirakan cuaca Sabang Jumat (14/11/2025) dominan berawan tebal dan hujan ringan.
BMKG Bali menyatakan suhu udara di wilayah Bali belakangan ini justru terasa lebih dingin dari biasanya, dengan kisaran suhu mencapai 19 hingga 24 derajat Celcius. (dok radarbadung.jawapos.com) 

Radarbadung.jawapos.com- Meskipun saat ini memasuki musim kemarau, suhu udara di wilayah Bali belakangan ini justru terasa lebih dingin dari biasanya, dengan kisaran suhu mencapai 19 hingga 24 derajat Celcius.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan hal yang wajar terjadi pada puncak musim kemarau, yakni sekitar bulan Juni, Juli, hingga Agustus.

Prakirawan Cuaca BMKG, Luh Eka Arisanti, menyampaikan bahwa berdasarkan data dari Automatic Weather Station (AWS) selama dua hari terakhir, suhu terendah tercatat di stasiun AWS Kintamani yang mencapai 13,51 derajat Celcius pada pukul 05.00 WITA.

Sementara untuk wilayah pesisir Bali, suhu minimum umumnya berkisar antara 19 hingga 24 derajat Celcius.

Fenomena ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu gerak semu tahunan matahari dan aktifnya angin Monsun Australia.

Pada periode ini, posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara.

Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia yang berada di selatan garis khatulistiwa, termasuk Bali. 

“Di saat yang sama, Benua Australia sedang mengalami musim dingin dengan tekanan udara yang relatif tinggi. Hal ini memicu pergerakan massa udara yang dingin dan kering dari Australia menuju Indonesia dan melintasi wilayah Bali,” jelas Eka. 

Selain itu, langit yang cenderung cerah dengan sedikit tutupan awan memungkinkan panas yang tersimpan di permukaan bumi terlepas bebas ke atmosfer pada malam hari tanpa ada penghalang. 

“Akibatnya, suhu udara di dekat permukaan tanah terasa jauh lebih dingin, terutama mulai malam hingga dini hari,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#cuaca ekstrem #bmkg bali #australia