Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Kehadiran Kepala Daerah Tak Lengkap di Bulan Bung Karno, Gubernur Koster: Yang Lain Tidak Jelas!

Ni Kadek Novi Febriani • Rabu, 3 Juni 2026 | 08:15 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan sambutan sekaligus membuka rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno Tahun 2026 yang ke-delapan, pada Senin (1/6) malam. (Istimewa)
Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan sambutan sekaligus membuka rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno Tahun 2026 yang ke-delapan, pada Senin (1/6) malam. (Istimewa)

Radarbadung.jawapos.com– Rangkaian peringatan Bulan Bung Karno (BBK) tahun 2026 resmi dibuka pada Senin (1/6) malam. 

Ini merupakan penyelenggaraan yang ke-delapan sejak Gubernur Bali, Wayan Koster, menjabat.

Sebagai kepala daerah yang berasal dari PDI Perjuangan, Koster memang kerap memberikan perhatian khusus terhadap warisan perjuangan proklamator setiap bulan Juni.
 
Namun, dalam acara pembukaan tersebut, tidak seluruh kepala daerah kabupaten dan kota di Bali hadir.

Di antaranya yang tidak hadir adalah Bupati/Wakil Bupati Badung serta Wali Kota/Wakil Wali Kota Denpasar — padahal keduanya juga merupakan kader dari partai yang sama.

Pemerintah Kota Denpasar hanya diwakili oleh Sekretaris Kota, I Gusti Ngurah Eddy Mulya.
 
Dalam sambutannya sebelum memimpin Salam Pancasila, Gubernur Koster menyapa para tamu undangan, termasuk kepala daerah yang hadir.

Ia menyebutkan satu per satu nama wilayah yang perwakilannya hadir, dimulai dari daerah yang paling jauh.
 
“Hadir jauh-jauh dari Jembrana. Ada Bupati Karangasem dari ujung timur, Bupati Klungkung. Yang agak dekat ada Wakil Bupati Bangli, Gianyar, dan Tabanan. Yang lain tidak jelas,” seloroh Koster disambut tawa hadirin.
 
Acara pembukaan ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Bali, yakni Bende.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun, Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, istri Gubernur Seniasih Giri Prasta, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, Ketua DPRD kabupaten/kota se-Bali, kepala organisasi perangkat daerah, serta ribuan masyarakat.
 
Pada tahun ini, Bulan Bung Karno mengusung tema “Kawya Atma Kerthi” yang bermakna Meraya Jiwa Perjuangan Proklamator.

Gubernur Koster menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan Bung Karno dalam kehidupan bermasyarakat.
 
Tema tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam: Kawya berarti ekspresi jiwa yang luhur, Atma adalah esensi kesadaran terdalam, dan Kerthi berarti upaya penyucian dan pemuliaan.
 
“Melalui tema ini, kita diajak tidak hanya mengenang Bung Karno sebagai tokoh sejarah, tetapi menghadirkan kembali jiwa perjuangannya sebagai energi hidup dalam pikiran, sikap, dan tindakan kita sehari-hari,” tegasnya.

Sebagai kepala daerah yang berasal dari PDI Perjuangan, Koster memang kerap memberikan perhatian khusus terhadap warisan perjuangan proklamator setiap bulan Juni.
 
Namun, dalam acara pembukaan tersebut, tidak seluruh kepala daerah kabupaten dan kota di Bali hadir.

Di antaranya yang tidak hadir adalah Bupati/Wakil Bupati Badung serta Wali Kota/Wakil Wali Kota Denpasar — padahal keduanya juga merupakan kader dari partai yang sama.

Pemerintah Kota Denpasar hanya diwakili oleh Sekretaris Kota, I Gusti Ngurah Eddy Mulya.
 
Dalam sambutannya sebelum memimpin Salam Pancasila, Gubernur Koster menyapa para tamu undangan, termasuk kepala daerah yang hadir.

Ia menyebutkan satu per satu nama wilayah yang perwakilannya hadir, dimulai dari daerah yang paling jauh.
 
“Hadir jauh-jauh dari Jembrana. Ada Bupati Karangasem dari ujung timur, Bupati Klungkung. Yang agak dekat ada Wakil Bupati Bangli, Gianyar, dan Tabanan. Yang lain tidak jelas,” seloroh Koster disambut tawa hadirin.
 
Acara pembukaan ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Bali, yakni Bende.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun, Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, istri Gubernur Seniasih Giri Prasta, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, Ketua DPRD kabupaten/kota se-Bali, kepala organisasi perangkat daerah, serta ribuan masyarakat.
 
Pada tahun ini, Bulan Bung Karno mengusung tema “Kawya Atma Kerthi” yang bermakna Meraya Jiwa Perjuangan Proklamator.

Gubernur Koster menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan Bung Karno dalam kehidupan bermasyarakat.
 
Tema tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam: Kawya berarti ekspresi jiwa yang luhur, Atma adalah esensi kesadaran terdalam, dan Kerthi berarti upaya penyucian dan pemuliaan.
 
“Melalui tema ini, kita diajak tidak hanya mengenang Bung Karno sebagai tokoh sejarah, tetapi menghadirkan kembali jiwa perjuangannya sebagai energi hidup dalam pikiran, sikap, dan tindakan kita sehari-hari,” tegasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#bulan bung Karno #gubernur bali #wali kota denpasar #bupati badung #pdip