Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Kambing Gembrong, Hewan Endemik Bali yang Dulunya Bulu Dipakai untuk Kostum Barong

Juliadi Radar Bali • Kamis, 4 Juni 2026 | 13:17 WIB
Manager Bali Wildlife Rescue Center PPS Tabanan, drh. Ayu Risdasari Tiyar Noviarini, bersama staf memperlihatkan salah satu Kambing Gembrong yang sedang dipelihara dan dikembangbiakkan untuk mencegah kepunahan. (Foto Juliadi)
Manager Bali Wildlife Rescue Center PPS Tabanan, drh. Ayu Risdasari Tiyar Noviarini, bersama staf memperlihatkan salah satu Kambing Gembrong yang sedang dipelihara dan dikembangbiakkan untuk mencegah kepunahan. (Foto Juliadi)

Populasinya Kini Terancam Punah, PPS Tabanan Mulai Kembangkan Biak

Radarbadung.jawapos.com– Kambing Gembrong merupakan salah satu plasma nutfah dan hewan ternak khas Bali yang dulunya banyak ditemukan, terutama di wilayah Kabupaten Karangasem.

Namun seiring berjalannya waktu, populasinya semakin menyusut dan kini terancam punah di tengah masyarakat.

Menyikapi kondisi tersebut, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan atau yang juga dikenal dengan sebutan Bali Wildlife Rescue Center, kini mulai mengembangbiakkan hewan langka ini.

Biasanya lembaga ini lebih dikenal merawat dan merehabilitasi satwa liar yang dilindungi, namun kali ini beralih perhatian untuk menyelamatkan warisan genetik hewan ternak asli Bali.

Manager Bali Wildlife Rescue Center PPS Tabanan, drh. Ayu Risdasari Tiyar Noviarini atau akrab disapa drh.

Rini, menjelaskan bahwa ciri khas utama Kambing Gembrong terletak pada bulunya yang sangat lebat dan panjang, berbeda dengan jenis kambing lainnya.

“Keunikan dan ciri khasnya ada pada bulu yang tebal dan lebat menutupi seluruh tubuhnya, terutama pada kambing jantan. Sedangkan untuk yang betina, bentuk bulunya hampir sama seperti kambing pada umumnya,” ungkapnya kepada Radar Bali, Rabu (3/6).

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dulunya hewan ini memiliki nilai guna ganda.

Selain dagingnya yang dikonsumsi sebagai sumber pangan, bulunya yang panjang sering dipotong dan dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kostum Barong dalam kesenian tradisional Bali.

Hal inilah yang membuat banyak warga dahulu tertarik memeliharanya.

“Namun seiring perkembangan zaman, pemanfaatannya berubah. Kambing ini lebih sering dipelihara hanya untuk dikonsumsi dagingnya saja, sehingga populasinya lama-kelamaan semakin berkurang dan kini sangat jarang ditemukan di lingkungan masyarakat,” jelas drh. Rini.

Untuk mencegah kepunahan, pihaknya memulai program pengembangbiakan.

Dari segi perawatan, ia menyebutkan tidak terlalu sulit karena pada dasarnya sama seperti memelihara kambing biasa.

Hewan ini memakan berbagai jenis tumbuhan, namun ada hal-hal yang harus diperhatikan.

“Yang perlu diwaspadai adalah jenis makanannya. Jangan memberikan dedaunan yang terlalu basah atau yang mengandung zat beracun dan kadar sianida tinggi, karena bisa menyebabkan perut kembung yang berujung pada kematian. Selain itu, kami juga rutin memberikan vitamin dan memandikannya setiap dua minggu sekali agar bulunya tetap sehat dan terawat,” paparnya.

Saat ini, PPS Tabanan telah memiliki koleksi sebanyak 25 ekor Kambing Gembrong, bertambah pesat dari jumlah awal hanya 5 ekor.

Masa kehamilan hewan ini berlangsung sekitar 5–6 bulan, dan setiap indukan biasanya melahirkan satu hingga dua ekor anak dalam setahun.

Umur harapan hidupnya dapat mencapai 10 hingga 15 tahun.

Selain dibudidayakan sendiri, lembaga ini juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengadopsi atau memelihara Kambing Gembrong.

Baru-baru ini, salah satu ekornya juga dibeli oleh Effendi Gazali, dosen pascasarjana Universitas Indonesia, untuk dikembangkan lebih lanjut di Jakarta.

“Harapan kami, upaya ini dapat mengembalikan populasinya dan mengajak lebih banyak masyarakat untuk ikut melestarikan Kambing Gembrong sebagai kekayaan asli Pulau Bali,” pungkas drh. Rini.***

Editor : Donny Tabelak
#kambing gembrong #barong #tabanan #peternak