Radarbadung.jawapos.com– Nilai tukar rupiah terus melemah dan menembus angka Rp18.000 per satu Dolar AS.
Kondisi ini menimbulkan dampak ganda bagi perekonomian, terutama sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau akrab disapa Cok Ace, menyebutkan penguatan nilai dolar merupakan fenomena yang terjadi secara global, dipengaruhi oleh kondisi perekonomian dan situasi geopolitik dunia.
Menurutnya, dari satu sisi kondisi ini justru membawa peluang.
Bagi wisatawan mancanegara, nilai uang mereka menjadi lebih kuat sehingga daya beli saat berkunjung ke Bali meningkat.
Hal ini dinilai berpotensi mendorong peningkatan jumlah kedatangan wisatawan.
“Dilihat dari sisi kunjungan, kenaikan kurs dolar menguntungkan wisatawan yang datang ke Bali. Uang mereka menjadi lebih bernilai, sehingga daya belinya meningkat cukup signifikan,” ujar Cok Ace yang juga mantan Wakil Gubernur Bali.
Namun di sisi lain, kondisi ini memberikan tekanan tersendiri bagi pelaku usaha pariwisata.
Pendapatan yang diperoleh hotel dan restoran tetap dalam bentuk mata uang rupiah, sementara kebutuhan operasional untuk sejumlah barang dan bahan baku impor menjadi semakin mahal.
“Kami tetap menerima pembayaran dalam rupiah, namun untuk beberapa kebutuhan usaha yang harus didatangkan dari luar negeri, harganya ikut melonjak seiring menguatnya dolar. Ini yang menjadi tantangan bagi kami,” jelasnya.***