Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Virus ASF Mulai Merebak di Tabanan, Bantuan Disinfektan 160 Liter Masih Jauh dari Cukup

Juliadi Radar Bali • Rabu, 10 Juni 2026 | 18:59 WIB
Suasana di lingkungan peternakan babi di Tabanan di tengah kewaspadaan terhadap penyebaran virus ASF. (Foto Juliadi)
Suasana di lingkungan peternakan babi di Tabanan di tengah kewaspadaan terhadap penyebaran virus ASF. (Foto Juliadi)

Radarbadung.jawapos.com— Penyebaran penyakit African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika yang mulai terdeteksi di Kabupaten Tabanan menjadi perhatian serius Dinas Pertanian setempat.

Sebagai langkah pencegahan, instansi tersebut telah menerima bantuan disinfektan dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, meski jumlahnya dinilai belum mencukupi kebutuhan di lapangan.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tabanan, drh Gede Eka Parta Ariana, menjelaskan bantuan sebanyak 160 liter disinfektan itu telah diterima sekitar dua minggu lalu dan saat ini mulai didistribusikan ke tiga Puskeswan.

Selanjutnya, petugas di masing-masing puskeswan akan menyalurkannya langsung kepada para peternak sesuai kebutuhan di wilayah kerjanya.

“Disinfektan ini khusus digunakan untuk upaya pencegahan. Penyalurannya melalui jaringan puskeswan agar lebih tepat sasaran,” ujarnya, Selasa (10/6).

Meskipun sudah diterima, jumlah bantuan tersebut masih jauh dari angka yang dibutuhkan.

Mengingat populasi ternak babi di Tabanan mencapai 37.566 ekor, kebutuhan disinfektan untuk menjaga kebersihan dan mencegah penularan penyakit diperkirakan mencapai 720 liter.

“Memang masih kurang jauh, mengingat jumlah populasi ternak yang cukup besar. Sejauh ini pada tahun 2026 baru satu kali menerima bantuan, dan penyalurannya juga tergantung ketersediaan dari pusat,” tambahnya.

Pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan di seluruh wilayah Kabupaten Tabanan, mengingat penyebaran virus ASF dapat terjadi sewaktu-waktu dan sulit diprediksi.

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi kasus kematian babi yang dipastikan positif ASF.

Meski begitu, kemungkinan adanya kasus yang belum dilaporkan tetap diwaspadai.

“Peternak kadang enggan melapor karena khawatir kerugian ekonomi, seperti yang pernah terjadi saat harga jual anjlok akibat merebaknya penyakit ini. Namun kami juga tidak bisa menyatakan sebagai ASF sebelum ada hasil pemeriksaan laboratorium yang pasti, agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih,” jelasnya.

Sementara itu, terkait ketersediaan vaksin ASF, drh Parta Ariana menyatakan hingga saat ini belum ada alokasi yang diterima dari pemerintah provinsi.

Oleh karena itu, langkah utama pencegahan yang dijalankan adalah melalui penerapan biosekuriti yang ketat, seperti menjaga kebersihan kandang dan rutin melakukan penyemprotan disinfektan.***

Editor : Donny Tabelak
#asf #demam babi #peternak babi #dinas pertanian tabanan #Virus Babi