Radarbadung.jawapos.com— Maraknya konten kekejaman terhadap hewan yang sengaja dibuat dan disebarkan untuk meraup keuntungan finansial menjadi perhatian serius.
Bali tercatat sebagai salah satu wilayah yang cukup banyak ditemukan kasus serupa.
Menyikapi hal itu, Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen mendukung gerakan global untuk memberantas penyebaran konten kekerasan terhadap hewan di media sosial.
Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan tingkat internasional Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) Global Summit 2026 yang berlangsung di Denpasar, Kamis (11/6).
Forum ini digagas oleh Asia for Animals (AfA) Coalition dan didukung oleh Yayasan Animalia Sintesia Indonesia sebagai mitra penyelenggara, dengan tema “Membangun Kolaborasi Lintas Sektor untuk Mengakhiri Kekejaman Terhadap Hewan di Dunia Maya”.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Bali, I Ketut Wica, menegaskan bahwa perlindungan terhadap makhluk hidup telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat, berlandaskan nilai budaya dan spiritualitas Tri Hita Karana yang telah dianut turun-temurun.
“Isu ini bukan konsep yang baru diadopsi dari luar, melainkan sudah menjadi urat nadi kehidupan kami selama berabad-abad. Maraknya konten kekerasan hewan mencerminkan penurunan nilai empati dan moralitas yang harus segera diatasi,” ujarnya.
Ia berharap pertemuan ini dapat melahirkan regulasi digital yang lebih mengikat dan tegas, serta memperkuat kerja sama antar berbagai pihak.
“Kami ingin terbentuk komitmen bersama, aturan yang jelas, dan jaringan kerja yang solid antara pengelola platform, penegak hukum, akademisi, dan pembuat kebijakan agar rantai penyebaran konten semacam ini benar-benar terputus,” tambahnya.
Perwakilan AfA SMACC, Nicola O’Brien, menyatakan bahwa penyebaran konten kekejaman hewan sudah berlangsung sangat masif sehingga tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.
Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan hewan, tetapi juga menyentuh aspek keamanan digital dan tata kelola ruang publik.
Hal senada disampaikan Co-CEO Asia for Animals, Syachna Nechar, yang menjelaskan bahwa mayoritas konten tersebut dibuat dengan tujuan ekonomi semata.
“Banyak tindakan kejam yang sengaja direkam dan dibagikan hanya untuk mencari keuntungan. Melalui forum ini, kami merumuskan langkah nyata bersama agar praktik ini bisa dihentikan sepenuhnya,” tegasnya.***
Editor : Donny Tabelak