Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Pasar Adat Pergung Hidup Kembali, Perputaran Uang Capai Rp300 Juta Setiap Galungan-Kuningan

Muhammad Basir • Jumat, 19 Juni 2026 | 07:29 WIB
Suasana Pasar Adat Pergung, pasar musiman yang hanya dibuka saat perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Jembrana. (Foto M. Basir)
Suasana Pasar Adat Pergung, pasar musiman yang hanya dibuka saat perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Jembrana. (Foto M. Basir)

Radarbadung.jawapos.com– Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan kembali membawa berkah ekonomi bagi warga Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Jembrana.

Pasar Adat Pergung yang digelar rutin setiap enam bulan sekali ini menjadi pusat aktivitas warga untuk memenuhi kebutuhan upacara sekaligus menjadi ajang wisata rakyat yang telah berlangsung sejak awal tahun 1970-an.
 
Menurut Ketua Panitia Pasar Adat Pergung, I Gusti Ngurah Budana, perputaran uang selama pasar berlangsung ditaksir mencapai hampir Rp300 juta.

Nilai itu terhitung dari omzet pedagang, biaya sewa lapak, jasa parkir, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
 
“Jika dihitung secara keseluruhan, baik dari aktivitas jual beli maupun jasa-jasa penunjang, perputaran uangnya menyentuh angka hampir Rp300 juta,” ujarnya.
 
Manfaat ekonomi yang dirasakan pun bersifat meluas, tidak hanya bagi pedagang.

Warga sekitar yang memiliki pekarangan luas memanfaatkannya sebagai lahan parkir musiman untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

Selain itu, tersedia pula jasa penyewaan tenda, meja, tempat berteduh, serta fasilitas umum yang disediakan oleh warga setempat.
 
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menyediakan sekitar 360 lapak dagang, jumlahnya berkurang dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 400 lapak.

Pengurangan ini terjadi seiring dengan pembangunan gedung koperasi di area pasar.

Meski demikian, antusiasme pengunjung tetap tinggi. 

Pasar yang berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektare milik Pemerintah Kabupaten Jembrana ini tetap ramai dikunjungi sepanjang rangkaian hari raya.
 
Hasil pengelolaan pasar sepenuhnya dikembalikan untuk kepentingan sosial dan keagamaan desa.

Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk mendanai berbagai kegiatan adat, seperti upacara ngaben, ngelungah, serta pelaksanaan Atma Wedana massal secara gratis bagi warga desa.
 
Selain menggerakkan roda perekonomian, keberadaan pasar ini juga membantu mengurai kepadatan lalu lintas di jalur nasional Denpasar–Gilimanuk yang melintas di kawasan Mendoyo.

Tersedia sembilan titik parkir yang dikelola warga, tersebar di sisi utara dan selatan lokasi pasar, bahkan meluas hingga ke Desa Pohsanten dan Kelurahan Tegalcangkring.
 
Berkat pengelolaan ini, satu kepala keluarga dapat memperoleh pendapatan bersih antara Rp4 juta hingga Rp5 juta selama rangkaian perayaan berlangsung, tergantung luas lahan yang disewakan.

Seluruh hasil pendapatan dari jasa parkir sepenuhnya menjadi hak warga tanpa adanya pungutan tambahan.
 
Panitia berharap keberlangsungan Pasar Adat Pergung ini dapat terus terjaga.

Dukungan dari pemerintah daerah, aparat keamanan, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama agar pasar tradisi ini tetap lestari dan terus menjadi penggerak ekonomi lokal setiap musim Galungan dan Kuningan.***

Editor : Donny Tabelak
#pasar adat #jembrana #galungan dan kuningan