Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Potensi Besar, Budidaya Beras Hitam di Tabanan Terkendala Ketersediaan Bibit

Juliadi Radar Bali • Minggu, 21 Juni 2026 | 06:28 WIB
Suasana panen padi beras hitam yang dilakukan petani di Subak Ganggangan, Banjar Dinas Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan. (Juliadi)
Suasana panen padi beras hitam yang dilakukan petani di Subak Ganggangan, Banjar Dinas Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan. (Juliadi)

Radarbadung.jawapos.com– Beras hitam khas Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, memiliki prospek pasar yang menjanjikan dan dibudidayakan secara organik.

Namun, pengembangannya terhambat karena kesulitan mendapatkan bibit yang berkualitas, sebuah persoalan yang sudah dialami petani sejak tiga tahun terakhir.
 
Budidaya padi beras hitam ini sudah dijalankan secara rutin oleh petani di lingkungan Subak Ganggangan, Banjar Dinas Pagi, sejak tahun 2017 silam.

Sayangnya, keterbatasan stok benih membuat luas lahan yang dapat ditanami menjadi sangat terbatas.

Dari total 25 hektar wilayah persawahan di subak tersebut, hanya sekitar 5 are yang bisa ditanami padi beras hitam pada musim tanam tahun 2026 ini.

Sebagian besar lahan lainnya terpaksa ditanami padi jenis hibrida dan beras merah.
 
“Tanamannya sedikit sekali. Sebagian besar petani menanam padi jenis lain karena sulit mendapatkan bibitnya,” ungkap I Made Jonita, salah seorang petani dan penggiat pelestarian tanaman lokal, saat ditemui Kamis (18/6).
 
Persoalan ketersediaan bibit ini mulai terasa sejak tahun 2023.

Sebelumnya, Dinas Pertanian Tabanan pernah memberikan bantuan benih yang kualitasnya sudah diuji oleh Institut Pertanian Bogor.

Namun, karena sempat tidak ditanam selama sekitar satu setengah tahun, stok bibit tersebut rusak dan habis.
 
Untuk mengatasi kekurangan itu, petani pernah mencoba mendatangkan bibit dari luar Bali, tepatnya dari Kalimantan.

Meskipun kualitasnya cukup baik, bibit tersebut memiliki kelemahan lain, yaitu tanamannya sangat disukai hama burung saat mulai berbuah.
 
Di tengah kendala tersebut, nilai jual beras hitam tetap sangat menjanjikan.

Saat ini, harga beras hitam hasil giling mencapai Rp30.000 per kilogram di tingkat petani. 

Harga ini cukup tinggi karena selain ketersediaannya terbatas, proses budidayanya dilakukan sepenuhnya secara organik, mulai dari pengolahan lahan hingga pemupukan.
 
“Semua tahapan pengelolaan kami lakukan dengan cara organik. Inilah yang membuat kualitas dan harganya tetap terjaga meski produksinya terbatas,” tambah Jonita.***

Editor : Donny Tabelak
#beras hitam #sawah #padi #penebel #dinas pertanian tabanan