Radarbadung.jawapos.com– Tradisi pembuatan tedung sebagai perlengkapan upacara adat Bali tetap bertahan di tengah tantangan keterbatasan bahan baku.
Salah satu pengrajin yang terus melestarikan kerajinan ini adalah Anak Agung Gede Anom Suwastika, warga kawasan Puri Satria Kanginan, Desa Paksebali, Klungkung.
Pria berusia 56 tahun ini menekuni usaha keluarga yang sudah dijalankan sejak kecil.
Ia kembali menekuni kerajinan tedung secara serius setelah pensiun dari pekerjaannya di sektor perhotelan.
“Usaha ini memang sudah turun-temurun dari keluarga, dan kini saya lanjutkan kembali,” ujarnya saat ditemui, Minggu (21/6).
Dalam sehari, Anom mampu memproduksi puluhan buah tedung dengan berbagai ukuran, yang paling banyak dibuat adalah berukuran satu meter.
Permintaan akan kerajinan ini meningkat tajam menjelang hari raya Galungan.
“Biasanya pesanan bisa mencapai 40 hingga 50 buah per hari saat mendekati Galungan,” jelasnya.
Harga jualnya pun bervariasi tergantung ukuran dan kualitas.
Tedung berukuran satu meter dengan kualitas halus menjadi paling diminati, sedangkan yang berukuran satu seperempat meter dibanderol hingga Rp125.000.
Selain model standar, ia juga menerima pesanan tedung agung yang memiliki ornamen lebih rumit dan membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama.
Hasil kerajinannya dipasarkan secara langsung di tempat produksi dan juga disalurkan ke sejumlah pasar seni dan pasar tradisional, seperti Pasar Sanglah, Pasar Kreneng, hingga Pasar Kumbasari.
Dalam kondisi biasa, pesanan bisa mencapai 200 buah setiap 2–3 minggu, dan jumlahnya berlipat ganda saat musim hari raya tiba.
Usaha ini juga menjadi bagian dari Klaster Tedung Paksebali yang diikuti oleh puluhan warga sekitar, yang selain membuat tedung juga memproduksi perlengkapan upacara lain seperti prada dan ider-ider.
Untuk mendukung kelancaran usahanya, Anom memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp100 juta.
Dana tersebut digunakan untuk menambah modal dan membeli persediaan bahan baku.
Ia juga memanfaatkan layanan BRImo untuk memudahkan transaksi pembayaran dari pembeli.
Regional CEO BRI Wilayah 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyatakan dukungan penuh bagi pelaku usaha kerajinan tradisional seperti ini.
“Permintaan tedung selalu ada, terutama untuk kebutuhan adat di Bali. Usaha seperti ini perlu terus didorong agar tetap lestari dan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat,” tegasnya.***
Editor : Donny Tabelak