Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Ubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar, 10 Kg Plastik Jadi 10 Liter BBM

Zulfika Rahman • Senin, 22 Juni 2026 | 10:19 WIB
Pihak Yayasan Get Plastic Indonesia mempraktikkan cara kerja mesin pirolisis yang dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. (Foto Zulfika Rahman)
Pihak Yayasan Get Plastic Indonesia mempraktikkan cara kerja mesin pirolisis yang dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. (Foto Zulfika Rahman)

Radarbadung.jawapos.com– Di tengah tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) dan menumpuknya sampah plastik, Yayasan Get Plastic Indonesia memperkenalkan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar melalui mesin pirolisis.

Teknologi ini didemostrasikan di hadapan warga pada Sabtu (20/6) di Museum Pustaka Lontar, Desa Adat Dukuh Penaban, dalam acara bertema “Sunrise Berkebun, Sunset Melantun”.

Koordinator kegiatan, Raissa Kanaya, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan cara baru memanfaatkan sampah plastik yang selama ini dianggap tidak berguna.

Melalui proses pirolisis, sampah plastik dapat diubah menjadi bahan bakar yang layak pakai untuk kebutuhan sehari-hari.

“Prinsipnya sederhana: sampah plastik yang terbuang bisa diolah menjadi sumber energi. Hasilnya dapat digunakan untuk menghidupkan genset dan keperluan lainnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, hampir semua jenis sampah plastik bisa diolah, asalkan tidak berbahan pipa dan dalam keadaan kering.

Dalam satu kali proses yang berlangsung selama sekitar dua jam, mesin mampu mengolah 10 kilogram sampah plastik dan menghasilkan sekitar 10 liter BBM.

Menariknya, proses ini tidak hanya menghasilkan bahan bakar minyak.

Sisa pengolahan juga menghasilkan gas yang dapat digunakan untuk memasak, serta karbon hitam yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kerajinan hingga paving blok.

Meskipun sudah berhasil diuji dan digunakan secara internal, bahan bakar hasil olahan ini belum bisa diperjualbelikan secara luas.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Pertamina, namun diatur ketentuan harganya harus lebih tinggi dari BBM yang beredar di pasaran. Kondisi ini membuatnya belum terjangkau untuk dijual ke masyarakat umum,” jelas Raissa.

Saat ini, BBM hasil olahan tersebut baru dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional yayasan dan sejumlah petani sekitar.

Ke depannya, pihaknya membuka peluang kerja sama dengan desa atau kelompok masyarakat yang ingin menerapkan teknologi ini.

“Mesin ini tidak kami jual, melainkan ditawarkan melalui skema kerja sama. Kami akan mendampingi sepenuhnya selama persyaratan seperti pendanaan dan tata kelola yang profesional dapat dipenuhi,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#bbm naik #olah sampah jadi minyak #bahan bakar #sampah plastik #yayasan