Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Hadapi Lonjakan Harga Bahan Baku, Pengrajin Tenun Ikat di Klungkung Bertahan dengan Dukungan Pembiayaan

Marsellus Pampur • Selasa, 23 Juni 2026 | 14:19 WIB
I Wayan Bagiarta, pelaku UMKM tenun ikat yang telah mempertahankan usahanya secara turun-temurun sejak tahun 1989.(Istimewa)
I Wayan Bagiarta, pelaku UMKM tenun ikat yang telah mempertahankan usahanya secara turun-temurun sejak tahun 1989.(Istimewa)

Radarbadung.jawapos.com– Usaha kain tenun tradisional Bali menghadapi tantangan ganda: permintaan pasar yang terus meningkat, namun di sisi lain terbentur keterbatasan modal dan lonjakan harga bahan baku.

Kondisi ini dialami juga oleh I Wayan Bagiarta, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tenun ikat yang telah menggeluti usahanya sejak tahun 1989 di Kabupaten Klungkung.

Usaha ini bermula dari sang ibu yang mengerjakan kain tenun secara tradisional di rumah.

Seiring berjalannya waktu dan tingginya minat pembeli, usaha tersebut terus berkembang dan sempat mempekerjakan hingga 15 orang penenun.

Kini, hasil produksinya meliputi kamen, sarung, hingga kain jumputan yang banyak dibutuhkan untuk keperluan upacara adat maupun seragam organisasi.

Setiap bulannya, usaha ini mampu menghasilkan sekitar 500 lembar sarung dan 500 lembar kamen yang dipasok ke berbagai toko di Bali.
 
Meskipun pesanan terus mengalir, proses produksi yang masih mengandalkan cara tradisional membuat waktu pengerjaan lebih lama.

Belum lagi tantangan baru yang muncul, yaitu kenaikan harga bahan baku secara signifikan.

Sebagai contoh, harga satu pak benang yang sebelumnya sekitar Rp400 ribu, kini melonjak menjadi Rp900 ribu.

Padahal, satu pak benang tersebut hanya cukup untuk menghasilkan sekitar 80 meter kain tenun.
 
Untuk mengatasi kendala modal ini, I Wayan Bagiarta memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Dana tersebut digunakan untuk menjaga kelancaran pasokan bahan baku serta mengembangkan usaha, termasuk membangun tempat penjualan langsung (homestore).
 
Regional CEO BRI Wilayah 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyatakan bahwa dukungan kepada pelaku usaha tenun memiliki makna ganda: selain membantu menjaga keberlangsungan warisan budaya, juga turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar.
 
“Kami mendukung usaha I Wayan Bagiarta yang telah memberdayakan tenaga penenun lokal. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kelestarian seni tenun tradisional sekaligus menciptakan mata pencaharian bagi warga,” ujarnya.***

Editor : Donny Tabelak
#kain tenun #tradisional bali #bri #klungkung #umkm