Radarbadung.jawapos.com– Di tengah kondisi merugi akibat sejumlah babi yang mati secara mendadak dan belum diketahui penyebabnya, para peternak di Karangasem kini diliputi kekhawatiran.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai apa yang menyebabkan kematian puluhan ekor babi yang tersebar di sejumlah wilayah kabupaten itu.
Salah satu peternak di Desa Bungaya, Ketut Tampi, mengaku sangat waspada menyusul kejadian ini.
Di kandangnya, ia memelihara sembilan ekor babi yang terdiri dari indukan dan anakan.
“Saya jadi khawatir. Takutnya kejadian seperti dulu terulang kembali, saat banyak babi mati karena virus ASF,” ujarnya.
Kekhawatiran itu membuat para peternak kini menerapkan langkah pencegahan yang lebih ketat.
“Saya sudah membatasi akses ke kandang. Setiap pembeli yang hendak melihat atau mengambil babi wajib membersihkan diri dengan cairan disinfektan,” jelasnya.
Ia juga semakin meningkatkan kebersihan dan sanitasi kandang demi mencegah risiko penularan.
Tampi berharap kerugian akibat kematian ternak tidak menimpanya.
“Semoga tidak sampai terjadi. Kami sangat berharap ada penanganan serius dari pemerintah agar kematian babi ini tidak meluas ke daerah lain,” tambahnya.
Diketahui, selama sebulan terakhir telah dilaporkan puluhan ekor babi mati di berbagai lokasi di Karangasem.
Salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Seraya Barat.
Berdasarkan catatan laporan yang diterima Dinas Pertanian Karangasem, kematian juga terjadi di tempat lain: di Desa Pertima sebanyak 17 ekor, di Desa Timbrah 5 ekor, dan di Desa Perasi sebanyak 10 ekor.
Menyikapi hal itu, Unit Pelaksana Teknis Daerah Pusat Kesehatan Hewan (UPTD Puskeswan) Karangasem telah turun langsung ke lokasi kejadian untuk melakukan pengecekan.
Dari keterangan yang disampaikan para peternak kepada petugas, gejala yang muncul sebelum hewan itu mati mirip dengan kasus infeksi virus ASF.
Gejala yang terlihat antara lain hilangnya nafsu makan, tubuh terasa lemas, serta muncul bintik-bintik kemerahan di bagian telinga.***
Editor : Donny Tabelak