Radarbadung.jawapos.com– Momentum libur sekolah membawa berkah bagi Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli.
Jumlah kunjungan wisatawan melonjak hingga rata-rata menembus 3.500 orang per hari, atau naik sekitar 75 persen dibandingkan hari biasa yang berkisar 2.000 pengunjung setiap harinya.
Peningkatan tersebut terjadi selama periode 23 Juni hingga 5 Juli 2026.
Tidak hanya wisatawan domestik, wisatawan mancanegara juga turut memadati salah satu desa wisata terbaik di dunia itu untuk menikmati suasana pedesaan Bali yang masih kental mempertahankan adat, budaya, dan kelestarian lingkungannya.
Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan peningkatan kunjungan saat libur sekolah menunjukkan Desa Wisata Penglipuran masih menjadi pilihan utama wisata keluarga.
"Momentum libur sekolah kembali memberikan dampak positif terhadap jumlah kunjungan. Desa Penglipuran tetap menjadi destinasi pilihan bagi keluarga yang ingin menikmati liburan edukatif, nyaman, sekaligus dekat dengan budaya dan alam," ujarnya, Selasa (7/7).
Menurutnya, tren kunjungan diperkirakan masih akan terus meningkat hingga pertengahan Juli.
Hal ini seiring dengan digelarnya Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Juli mendatang.
"Kami optimistis jumlah kunjungan masih akan bertambah karena berbagai atraksi budaya, aktivitas edukatif, hingga pengalaman wisata berbasis masyarakat telah kami persiapkan menyambut festival tersebut," katanya.
Di tengah lonjakan jumlah pengunjung, pengelola desa juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan agar daya tarik utama Penglipuran tetap terpelihara.
Tempat sampah telah disediakan di sejumlah titik kawasan wisata, sementara pengunjung diimbau untuk membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghormati adat istiadat masyarakat setempat, serta mendukung pelaku UMKM dengan membeli produk lokal dan menikmati kuliner khas desa.
Sumiarsa menegaskan, setiap wisatawan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan Desa Penglipuran.
"Setiap langkah kecil yang dilakukan wisatawan akan memberikan dampak besar bagi keberlangsungan desa. Kami ingin memastikan setiap kunjungan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membantu menjaga lingkungan tetap hijau, memperkuat budaya lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mewariskan desa yang lebih baik kepada generasi berikutnya," ungkapnya.
Sebagai penerima penghargaan Best Tourism Village dari UN Tourism pada tahun 2024, Desa Wisata Penglipuran terus mengembangkan konsep pariwisata regeneratif.
Konsep ini tidak hanya mengejar tingginya angka kunjungan wisatawan, tetapi juga berorientasi pada dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Konsep tersebut menjadi benang merah dalam Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 yang mengusung tema Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif.
"Keberhasilan pariwisata tidak lagi hanya diukur dari banyaknya jumlah wisatawan yang datang, tetapi dari sejauh mana pariwisata mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan, masyarakat, budaya, dan generasi mendatang. Pariwisata regeneratif bukan sekadar menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga memperbaiki dan menciptakan kondisi yang lebih baik dibanding sebelumnya," jelasnya.
Ia menambahkan, melalui pendekatan tersebut setiap wisatawan diharapkan ikut menjadi bagian dari upaya menjaga adat istiadat, melestarikan lingkungan, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus memperoleh pengalaman budaya yang lebih bermakna.
"Harapan kami, setiap orang yang datang ke Penglipuran tidak hanya membawa pulang kenangan indah, tetapi juga meninggalkan manfaat yang berkelanjutan bagi desa dan masyarakat," tutup Sumiarsa.***
Editor : Donny Tabelak