Radarbadung.jawapos.com– Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UNAIR) yang juga Gubernur Jawa Timur periode 2025–2030, Khofifah Indar Parawansa, menyoroti potensi besar sektor peternakan Bali untuk mendukung target swasembada daging nasional.
Ia mendorong pengembangan ternak sapi potong kualitas premium seperti Wagyu guna menekan ketergantungan impor.
Dalam kunjungannya bertepatan dengan pelantikan pengurus IKA UNAIR Wilayah Bali di Kuta, Kamis (16/7), Khofifah mengajak alumni di Bali bersinergi dengan Balai Inseminasi Buatan (BIB) mengoptimalkan potensi genetik ternak lokal.
Ketua IKA UNAIR Wilayah Bali, Nyoman Dhukajaya, menjelaskan sapi Bali sudah memiliki keunggulan genetik yang kuat, namun terbuka peluang persilangan dengan ras unggul seperti Belgian Blue yang berotot ganda, maupun Wagyu yang nilai ekonominya sangat tinggi.
“Kualitas sapi Bali sudah sangat baik. Namun persilangan dengan jenis lain bisa membuka peluang pasar yang lebih luas. Kami berharap alumni yang bergerak di bidang terkait dapat bekerja sama mewujudkan hal ini di Bali,” ujar Nyoman Dhukajaya.
Khofifah menilai rencana ini sangat realistis karena didukung ketersediaan ribuan dosis semen beku, tenaga inseminator, serta petugas pengawas kebuntingan di Bali.
Daging Wagyu bahkan bisa bernilai jual di atas Rp1 juta per kilogram, sehingga berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
“Ini bukan sekadar urusan organisasi alumni, tapi bagaimana mengangkat ekonomi masyarakat dan peternakan. Jika persilangan ini berhasil di Jawa Timur, pola yang sama bisa diterapkan di Bali untuk mengurangi impor daging,” ujar mantan Menteri Sosial itu.
Keberhasilan program ini diharapkan melengkapi capaian swasembada beras dan target swasembada gula yang digalakkan tahun ini.
Pengalaman Jawa Timur dapat direplikasi di Bali mengingat kebutuhan daging untuk industri pariwisata di pulau ini sangat besar.
Menanggapi hal tersebut, Nyoman Dhukajaya menegaskan ratusan anggota IKA UNAIR di Bali siap berkontribusi nyata.
“Kami hadir sebagai kekuatan intelektual untuk solusi konkret, mulai dari peternakan, lingkungan, pendidikan, kesehatan, hingga pemerataan pembangunan,” pungkasnya.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung