Semburan Belerang Danau Batur, 25 Ton Ikan Nila Milik Pembudidaya Mati Semua

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 06:29 WIB
Ilustrasi. Pemandangan ikonik Danau Batur dengan latar belakang Gunung Batur di Kintamani, Bangli. Fenomena semburan belerang yang terjadi kini mengubah warna air danau dan mengancam ribuan keramba ikan di perairan ini.(Ai)
Ilustrasi. Pemandangan ikonik Danau Batur dengan latar belakang Gunung Batur di Kintamani, Bangli. Fenomena semburan belerang yang terjadi kini mengubah warna air danau dan mengancam ribuan keramba ikan di perairan ini.(Ai)

Radarbadung.jawapos.com– Fenomena alam tahunan berupa semburan belerang di Danau Batur kembali terjadi.

Peristiwa terdeteksi Senin (20/7) sekitar pukul 03.30 Wita di tiga lokasi: Desa Kedisan, Buahan, dan Abang Songan, Kecamatan Kintamani.

Hingga Selasa (21/7) semburan masih berlangsung, dan dampak nyata mulai terlihat berupa kematian ikan di keramba budidaya.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Bangli I Wayan Agus Wirawan menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan kualitas air.

Hasilnya menunjukkan kadar oksigen terlarut (DO), derajat keasaman (pH), dan suhu air tidak memenuhi syarat kelayakan hidup ikan.

“Standar ideal DO minimal 5 mg per liter, suhu 24–25 derajat Celcius, dan pH antara 5–8,5. Saat ini kami temukan DO hanya 2,3 hingga 2,8 mg per liter.

Kondisi ini sangat mengancam kelangsungan hidup ikan,” bebernya.

Dampak nyata sudah terlihat: satu pembudidaya atas nama Jero Raksa di Banjar Dukuh, Desa Abang Songan, kehilangan seluruh ikan nila di 150 petak kerambanya dengan perkiraan total mencapai 25 ton.

Sementara itu, pembudidaya lain memilih tidak mendekati keramba untuk sementara waktu.

Pergerakan di perairan dikhawatirkan memancing ikan berenang ke lapisan air yang lebih dalam, di mana kadar oksigen justru semakin minim dan berisiko mempercepat kematian.

Fenomena semburan belerang seperti ini biasanya terjadi pada periode Juli–September.

Sebagian besar pembudidaya sudah memanen lebih awal dan tidak menebar benih di bulan berisiko.

Namun, kelompok yang berperan sebagai pemasok rutin terpaksa tetap memelihara stok ikan.

Lama durasi semburan sangat bergantung pada cuaca, dan bisa berlangsung hingga 10 hari.

“Bila cuaca dingin dan angin kencang bertahan lama, fenomena ini juga akan berlangsung lama. Kami berharap semburan segera berhenti agar kerugian tidak meluas,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
semburan belerang kintamani ikan bangli Danau Batur