Terinspirasi Media Sosial, Ni Wayan Mustini Jadi Sopir Antar-Jemput Siswa di Tabanan

Juliadi Radar Bali • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 15:55 WIB
Ni Wayan Mustini, satu-satunya sopir perempuan yang bergabung dalam layanan Angkutan Trans Siswa Gratis di Kabupaten Tabanan.(Foto Juliadi)
Ni Wayan Mustini, satu-satunya sopir perempuan yang bergabung dalam layanan Angkutan Trans Siswa Gratis di Kabupaten Tabanan.(Foto Juliadi)

Radarbadung.jawapos.com– Ada hal istimewa saat pelaksanaan tes urine dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi ratusan pramudi layanan Angkutan Trans Siswa Gratis Kabupaten Tabanan, Kamis (23/7).

Dari total 244 pramudi yang mengikuti program ini, terselip satu-satunya sopir perempuan, Ni Wayan Mustini (47).

Warga Banjar Dinas Bugbugan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel ini akan melayani rute antar-jemput siswa SMP Negeri 3 Penebel, meliputi wilayah Pemanis, Pagi, Senganan, Pacung, hingga Belatung.

Saat ditemui, Mustini mengaku baru saja memulai profesi ini.

Sebelumnya ia bekerja sebagai karyawan di BPR dan koperasi selama lebih dari dua tahun, namun harus berhenti karena efisiensi atau penciutan tenaga kerja.

“Sudah cukup lama saya tidak bekerja,” akuinya.

Ia memilih menjadi sopir demi menopang ekonomi keluarga, terutama untuk membiayai ketiga anaknya: anak pertama sedang kuliah di perguruan tinggi Bali, anak kedua duduk di bangku SMA, dan anak ketiga masih bersekolah di SD.

Selain itu, adiknya memiliki satu unit armada Isuzu Elf yang dulunya ikut layanan angkutan siswa gratis namun kini terparkir diam.

“Ketimbang kendaraan menganggur, lebih baik saya pakai untuk layani siswa. Lagipula saya juga bisa menyetir,” tuturnya.

Langkah ini pun mendapat dukungan penuh dari suami, keluarga, maupun adiknya sebagai pemilik kendaraan.

Motivasi kuat lainnya datang dari media sosial.

“Sering saya lihat di YouTube dan Facebook, banyak perempuan yang kini sukses menjadi sopir bus maupun truk. Itu juga yang menyemangati saya,” jelasnya.

Meski sempat merasa sejenak berbeda saat berkumpul di Gedung Graha Yadnya Sanjayaning Singasana—karena semua peserta lain laki-laki—Mustini tak gentar.

“Saya memang satu-satunya perempuan, tapi itu bukan masalah. Niat saya bekerja dan dukungan keluarga membuat saya berani melangkah,” ucapnya.

Ia menegaskan keluarga tetap prioritas utama.

“Pelayanan antar-jemput siswa kan hanya berlangsung setengah hari. Astungkara saya bisa membagi waktu dengan baik untuk mengurus suami dan anak-anak di rumah,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
angkutan siswa gratis bpr pemkab tabanan penebel sopir