Mengenang Seabad Rarud Batur, Refleksi Sejarah dan Ketahanan Masyarakat Bali

I Wayan Widyantara • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 08:18 WIB
Pemandangan Gunung Batur. (Foto I Wayan Widyantara)
Pemandangan Gunung Batur. (Foto I Wayan Widyantara)

Radarbadung.jawapos.com- Kabut pagi perlahan menyelimuti lereng Kaldera Batur.

Siluet Gunung Batur berdiri tenang, menyimpan ingatan satu abad silam: Agustus 1926, letusan dahsyat mengubur pusat Desa Adat Batur di kaki barat daya gunung.

Rumah lenyap, ruang hidup berubah, dan masyarakat dipaksa memulai kehidupan dari awal.

Sejarah mencatat, benda pusaka, arca, Rajapurana, serta bagian bangunan suci diselamatkan dan diungsikan ke Desa Adat Bayunggede selama dua tahun, sebelum pusat Desa Adat Batur dipindahkan ke lokasi saat ini pada 1928.

Jero Penyarikan Duuran Batur, I Ketut Eriadi Ariana, menegaskan relokasi itu bukan sekadar pindah tempat, melainkan pemindahan peradaban Bali kuno.

“Batur adalah peradaban tua dengan jejak prasasti. Pura Ulun Danu Batur berada di sini karena tergeser bencana. Tanpa bakti pada Dewi Danu dan solidaritas antar desa adat, peradaban kami sudah berhenti seratus tahun lalu,” ujarnya, Rabu (22/7).

Kini kawasan lama ditetapkan sebagai daerah konservasi.

Pasca bencana, pertanian tumbuh di tanah vulkanik subur, peternakan berkembang, dan Danau Batur menjadi sumber kehidupan.

Namun pesatnya pariwisata mulai memberi tekanan pada wajah agraris kawasan.

Kepala Desa Awan, I Ketut Dhana Bratha, mengusulkan perlunya regulasi tegas dan pemetaan potensi sesuai karakter alam serta budaya.

Ia mendorong pengembangan pertanian organik di sempadan Danau Batur dan kawasan penyangga geopark, sekaligus mengatasi ledakan populasi lalat yang mengganggu.

“Masa depan Batur tidak boleh hanya bertumpu pada investasi wisata. Lahan pertanian harus dilindungi, pembangunan selaras daya dukung lingkungan,” tegasnya.

Puncak peringatan 100 tahun Rarud Batur diwujudkan dalam Batur Village Festival berlangsung 2–8 Agustus 2026 dengan tema Batur Matangi, yang bermakna kebangkitan sekaligus pengingat sejarah relokasi.

“Festival ini bukan sekadar pertunjukan, tapi ruang edukasi identitas kami,” kata Ketua Panitia I Made Santika.

BATUR BEREBUT RUANG: MODAL GESER PERTANIAN?

Hamparan kebun bawang, kopi arabika, dan sayur kini berbagi tempat dengan deretan glamping.

Perubahan wajah ini memicu pertanyaan: apakah pariwisata tumbuh berdampingan, atau justru menggeser akar kehidupan masyarakat?

Akademisi Agribisnis Universitas Udayana Dr. I Made Sarjana menilai Batur kini “benteng terbuka” bagi investasi tanpa arah jelas.

“Pembangunan dikendalikan modal, bukan perencanaan. Tak ada aturan berapa jumlah akomodasi yang boleh dibangun. Pariwisata lebih menguntungkan cepat, sehingga fungsi pertanian makin terpinggirkan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti belum terwujudnya agrowisata yang nyata.

“Banyak disebut agrowisata, tapi tak ada produk pengalaman pertanian yang dijual. Dulu ada agrowisata bambu dan kopi di Batur Tengah, kini tak beroperasi lagi. Pariwisata tak boleh hanya berupa cangkang tanpa isi,” jelasnya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Udayana Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini mengingatkan kesuburan tanah Batur lahir dari perjuangan panjang masyarakat pasca letusan.

Dulu tanah seperti zona mati, pH asam, hara rendah, mikroorganisme hampir musnah.

“Masyarakat gotong royong singkirkan batu, tambah pupuk organik, tanam tanaman perintis. Kini cacing tanah kembali—tanda tanah sudah pulih,” katanya.

Tanah vulkanik Batur kaya mineral, tapi berpasir sehingga cepat kehilangan air dan hara jika tak dirawat.

“Kuncinya bahan organik. Tanpa itu, kesuburan mudah hilang,” tegasnya.

Ancaman terbesar kini bukan lahar, melainkan alih fungsi lahan, berkurangnya petani, persaingan air, dan limbah.

Kartini menyarankan pertanian menjadi bagian inti pariwisata, bukan korbannya.

“Perkuat LP2B, berikan insentif petani, kembangkan pertanian organik terpadu SaBiCaITaLA. Kalau wisatawan membayar pengalaman bertani, petani dapat pendapatan ganda. Tanah tak pernah salah, yang salah cara kita memperlakukannya,” pesannya.

KESEIMBANGAN YANG HARUS DIPERTAHANKAN

Pengamat ekonomi sekaligus Guru Besar Undiknas Denpasar Prof. Dr. I.B. Raka Suardana menilai transformasi Batur pasca bencana adalah contoh keberhasilan berbasis potensi lokal, yang makin kuat dengan status UNESCO Global Geopark.

“Pariwisata membuka peluang usaha baru: homestay, restoran, jasa pemandu, penyewaan jeep, hingga pasar hasil tani. Permintaan sayur, kopi arabika, dan produk lokal meningkat pesat. Struktur ekonomi berkembang menjadi gabungan pertanian dan jasa,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan pertumbuhan tak boleh tanpa kendali.

“Pembangunan harus tetap menjaga lahan produktif dan nilai budaya. Konsep terbaik adalah agrowisata berbasis masyarakat, di mana wisatawan tak hanya lihat pemandangan, tapi ikut memanen, mengenal kopi, dan menikmati kuliner lokal,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
desa adat batur letusan gunung gunung batur pertanian universitas udayana