ITDC Dukung Pertanian Organik, Burung Hantu Tyto Alba Jadi Pengendali Hama Tikus

I Wayan Widyantara • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 08:52 WIB
Perwakilan ITDC bersama Yayasan Owl Tower Bali dan Kelompok Tani Desa Kedisan menunjukkan burung hantu Tyto alba usai penyerahan bantuan Rumah Burung Hantu (RUBUHA) di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Kamis (30/7) lalu. (Foto ITDC Nusa Dua)
Perwakilan ITDC bersama Yayasan Owl Tower Bali dan Kelompok Tani Desa Kedisan menunjukkan burung hantu Tyto alba usai penyerahan bantuan Rumah Burung Hantu (RUBUHA) di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Kamis (30/7) lalu. (Foto ITDC Nusa Dua)

Serahkan Rumah Burung Hantu di Gianyar, Tekan Ketergantungan Racun Kimia

Radarbadung.jawapos.com– PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) memperluas kontribusi di luar sektor pariwisata dengan mendukung pertanian organik berkelanjutan di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar.

Lewat kolaborasi dengan Yayasan Owl Tower Bali, burung hantu jenis Tyto alba dimanfaatkan sebagai predator alami untuk menekan populasi hama tikus di persawahan.

Inisiatif ini merupakan bagian Program Pengembangan Masyarakat The Nusa Dua, bertujuan mendorong pertanian ramah lingkungan, meningkatkan produktivitas, serta menjaga keseimbangan ekosistem demi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

ITDC menyerahkan 10 unit Rumah Burung Hantu (RUBUHA), satu unit kandang adaptasi ukuran 3x2 meter, serta paket pakan awal selama 14 hari berupa jangkrik dan 84 ekor tikus.

Sementara Yayasan Owl Tower Bali menyerahkan sepasang burung hantu Tyto alba untuk dibudidayakan di lokasi.

General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menjelaskan langkah ini wujud komitmen menciptakan nilai bersama.

“Keberlanjutan pariwisata tak terlepas dari pertanian dan lingkungan. Kami harap petani bisa kendalikan hama secara alami, pelestarian keanekaragaman hayati terjaga, dan manfaatnya dirasakan jangka panjang,” ujarnya, Kamis (30/7).

Program ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Pendiri Yayasan Owl Tower Bali, dr. I Wayan Wirawan, menyebut seekor burung hantu dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus setiap malam.

“Metode ini mengurangi ketergantungan pada racun tikus, menjaga kesuburan tanah, dan menjaga keseimbangan rantai makanan,” paparnya.

Ketua Kelompok Tani Desa Kedisan, I Putu Yoga Wibawa, menyambut baik bantuan tersebut.

“Ini solusi tepat untuk pertanian organik kami. Kami akan rawat sebaik-baiknya agar hasil panen meningkat dan bisa menjadi contoh bagi desa lain,” ucapnya.

ITDC menegaskan akan terus memperluas kemitraan lintas sektor guna mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
burung hantu pertanian organik gianyar petani itdc nusa dua