Wisatawan Domestik Turun, Tapi PHR Melonjak Rp 4,1 Triliun- Okupansi Hotel Bali Capai 90 Persen 

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 12:29 WIB
Suasana Pantai Kuta yang dipadati wisatawan domestik saat momen libur cuti bersama dan libur sekolah berlangsung.(Foto Adrian Suwanto)
Suasana Pantai Kuta. Jumlah kunjungan wisatawan domestik turun, namun penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) serta tingkat hunian hotel tetap melonjak tinggi. (Foto Adrian Suwanto)

Radarbadung.jawapos.com— Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti perkembangan pariwisata Bali yang tampak kontradiktif per akhir Juli 2026: jumlah kunjungan wisatawan domestik justru turun, namun penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) serta tingkat hunian hotel tetap melonjak tinggi.

Dalam kunjungannya di Nusa Dua Eco Market, Gubernur mengapresiasi pelaksanaan berbagai kegiatan pendorong pariwisata yang dinilai penting untuk menjaga kawasan tetap hidup sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan pelaku UMKM.

“Saya lihat wisatawan asal London yang sudah dua minggu di Bali pun datang menikmati acara bersama keluarganya. Kegiatan seperti ini juga menolong UMKM, yang merupakan basis ekonomi kerakyatan kita,” ujarnya.

Koster kembali menegaskan perekonomian Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata, yang menyumbang sekitar 66 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Karena itu, ekosistem pariwisata harus dijaga tetap aman, berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan.

“Kontribusi sebesar ini harus kita jaga dengan baik. Sebab itulah saya bekerja keras menjaga agar situasi di Bali tetap kondusif dan aman,” tegasnya.

Berdasarkan data per 31 Juli 2026:

- Wisatawan Mancanegara: Tumbuh sekitar 0,4 persen secara tahunan, rata-rata 22.000–24.000 orang per hari.

- Wisatawan Domestik: Turun sekitar 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemicu utamanya: kenaikan harga avtur yang mendorong harga tiket pesawat ke Bali ikut naik.

Namun di tengah penurunan jumlah wisatawan domestik, indikator lain justru membaik:

- Tingkat Hunian Hotel Berizin: Rata-rata mencapai sekitar 90 persen, terutama hotel bintang lima dan bintang lima plus.

Di kawasan ITDC Nusa Dua bahkan tembus lebih dari 95 persen.

- Penerimaan PHR: Mencapai sekitar Rp 4,1 triliun, naik dibandingkan periode sama 2025 yang sebesar Rp 3,8 triliun.

Kabupaten Badung menyumbang sekitar Rp 2,9 triliun atau 71 persen dari total.

“Jumlah wisatawan memang turun, tetapi tingkat hunian hotel justru naik. Artinya, kualitas kunjungan meningkat,” jelas Koster.

Koster juga menekankan pentingnya peran Badung dalam menjaga kinerja pariwisata Bali secara keseluruhan.

“Mengurus Badung sama dengan mengurus Bali. Jika kawasan pariwisata di Badung terjaga baik, dampaknya sangat besar bagi perekonomian Bali.”

Ia berharap Nusa Dua Eco Market tidak berhenti sekadar acara dua hari, melainkan terus berlanjut hingga Desember 2026 dan menjadi ruang kolaborasi yang berkembang.

“Pariwisata tidak cukup hanya menghadirkan wisatawan dan hunian tinggi, tetapi harus mampu memberi manfaat yang terasa hingga ke masyarakat. Inilah cara kita membangun kebersamaan, harmoni dalam memajukan perekonomian dan kesejahteraan bersama,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
pajak hotel restoran gubernur bali wayan koster pariwisata bali wisatawan domestik