Radarbadung.jawapos.com— Nyawa GEWP, 7 tahun, bocah warga Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, melayang dengan diagnosis suspek rabies.
Kematian ini terjadi akibat keterlambatan penanganan medis pasca digigit anjing peliharaannya sendiri.
Korban yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar meninggal dunia di IGD RSUD Buleleng pada Jumat (7/8) sekitar pukul 17.31 Wita.
Sejak Kamis (6/8), korban mulai mengeluh nyeri pada kaki kiri, disertai demam dan penurunan nafsu makan.
Keluarga sempat membawanya ke bidan dan hanya diberi vitamin serta obat penurun panas.
Malam harinya, kondisi korban makin lemah dan berkeringat banyak.
Kondisi tak kunjung membaik membuat keluarga akhirnya membawanya ke RSUD Tangguwisia pada Jumat (7/8) pukul 11.45 Wita.
Di sana, korban sudah menunjukkan gejala khas: takut air, gelisah, takut angin maupun hawa dingin dari AC, serta terus meludah.
Korban langsung didiagnosis suspek rabies dan dirujuk ke RSUD Buleleng.
“Pasien tiba di RSUD Buleleng pukul 15.30 Wita. Rencananya akan diisolasi di Ruang Sandat, namun pukul 17.31 Wita, korban meninggal dunia di IGD RSUD Buleleng di hadapan keluarga dan perawat,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng, dr. Sucipto, Minggu (9/8).
Dari keterangan ayah korban, diketahui GEWP pernah digigit anjing peliharaan keluarga di bagian betis kaki kiri pada awal Juni 2026.
Anjing yang telah dipelihara selama satu tahun itu ternyata juga pernah menggigit adik korban, meskipun hanya menimbulkan luka sayatan ringan di perut tanpa pendarahan.
Karena menganggap lukanya kecil dan tidak berbahaya, ayah korban hanya mencuci luka di rumah tanpa membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin anti-rabies.
“Setelah menggigit, anjing tersebut justru dibunuh dan dikubur tanpa melapor ke Puskeswan. Alasannya takut anjing itu menggigit orang lain. Selama dipelihara, anjing tersebut memang dilepasliarkan bebas,” lanjut Sucipto.
Pasca kematian GEWP, adik korban segera dibawa ke RSUD Tangguwisia untuk mendapatkan vaksin anti-rabies meskipun tampak sehat.
Sementara itu, identifikasi menyeluruh terhadap kontak erat korban belum dapat dilakukan sepenuhnya mengingat keluarga masih berduka.
Informasi mengenai kematian korban sempat beredar luas dalam bentuk video di media sosial TikTok.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung