Radarbadung.jawapos.com— Memasuki puncak musim kemarau yang dipicu fenomena El Nino berintensitas sangat kuat, Provinsi Bali menghadapi risiko ganda: meluasnya kebakaran hutan dan lahan serta menjalarnya krisis air bersih.
Kepala BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana, menyampaikan hal ini pada keterangan pers, Kamis (13/8).
Musim kemarau telah berlangsung sejak Dasarian II April 2026, dengan puncak kekeringan diprediksi jatuh pada bulan Agustus ini.
“Kondisi kemarau mempertinggi potensi kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan–lahan, hingga kebakaran bangunan dan permukiman,” tegas Teja.
Berdasarkan data BPBD Bali periode 11 April–11 Agustus 2026, luas lahan dan hutan yang terbakar telah mencapai 158,53 hektare dari total kawasan hutan Bali seluas 131.171,47 hektare.
Titik kebakaran tersebar di beberapa kabupaten: Nusa Penida 15 hektare, lahan pertanian Karangasem 2 hektare, Gerokgak Buleleng 91,52 hektare, serta lahan kosong di Pekutatan Jembrana 1,5 hektare.
Titik kebakaran juga tercatat di kawasan Gunung Batur pada 11 Agustus.
Per tanggal 13 Agustus pukul 06.00 WITA, tercatat tiga titik kebakaran baru:
- Tabanan: Kebakaran bangunan dapur, gudang dan pelinggih di Banjar Gubug Belodan, Desa Gubug
- Denpasar: Kebakaran lahan alang-alang di Jalan Cekomaria, Banjar Kedua, Kelurahan Peguyangan Kangin
- Buleleng: Kebakaran lahan jati di Banjar Dinas Serongga, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt
Seluruh kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Selain hutan dan lahan, Tempat Pembuangan Akhir sampah juga dipastikan berpotensi terbakar, sehingga BPBD Bali memperluas pemantauan sekaligus pengendalian risiko mencakup kawasan hutan, lahan, TPA, bangunan hingga permukiman.
Krisis Air Mulai Meluas
Ancaman kekeringan kini mulai nyata. Sebanyak 529 Kepala Keluarga di tiga kabupaten telah terdampak krisis air bersih:
- Buleleng: Desa Sinabun
- Jembrana: Kelurahan Pendem, Desa Asahduren, Desa Manistutu
- Karangasem: Desa Baturinggit
Tanda kekeringan terlihat dari menurunnya debit air sungai, sumber mata air, air pegunungan, serta mengeringnya sumur bor.
Sebagai penanganan darurat, BPBD telah menyalurkan bantuan air bersih: 158.000 liter ke Buleleng, 137.000 liter ke Jembrana, dan 10.000 liter ke Karangasem — total mencapai 305.000 liter.
Langkah selanjutnya meliputi pemantauan rutin wilayah rawan, identifikasi kebutuhan air, penyiapan sistem distribusi, serta penguatan sarana pendukung seperti pompa dan jaringan pipa.
Teja mengimbau masyarakat untuk menghemat pemakaian air, menyediakan cadangan air secukupnya, serta tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan.
“Jangan membuang puntung rokok di kawasan hutan, semak, maupun lahan kering. Jika melihat hal mencurigakan, segera laporkan ke perangkat desa atau BPBD setempat,” pungkasnya.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung